Jumat, 17 Maret 2023

Separation is Natural

Ternyata, langit dan laut punya garis pemisah yaa, batin saya ketika mengunjungi pantai di sekitar bandara untuk sejenak transit penerbangan ke negeri orang minggu lalu.

Saya selalu melihat, sebenarnya tidak hanya melihat atau mengangguk dengan “hmm, oyaya, aah” namun benar-benar optimis bahwa langit dan laut itu sebenarnya menyatu, entah di mana ujungnya, pokoknya menyatu, pikir saya dulu kalau ilmuwan kita saja yang belum mencapai sana, belum meneliti hal semacam itu, belum bisa menyimpulkan, apalagi mempublikasikannya. 


Namun, kemarin, semakin saya melihat dari dekat, semakin terasa, kalau langit dan laut memang jauh terpisah yaa. Jauh, benar-benar jauh. Kenaifan saya runtuh seketika.


Sekarang, satu hal baru yang saya pahami, “separation is natural”. Sejak awal bumi tercipta, ada banyak hal yang secara alamiah memang harus terpisah, harus berjarak, harus jauh, harus tetap mengikuti kodratnya sebagai mahluk yang diciptakan. 


Langit yang tinggi, di atas sana, menenangkan, mendamaikan, menghujani, terbuka memeluk seluruh isi bumi. Akan sangat wajar jika secara alamiah harus diberi garis pembatas dengan laut. Laut yang sangat mendasar, ombak yang menghempas-hempas, badai dimana-mana, berpagar batu karang, saking tertutupnya tidak banyak yang berhasil menjelajah.




Mungkin, begitulah kita, Mas. Tentu, panjenengan adalah langit, dan saya lautnya. Puluhan ribu jam, saya, si-paling-optimis, berasumsi bahwa kita menyatu. Kali pertama ngobrol, saya seperti seseorang di pinggir pantai, memandangi langit dan laut “pasti kita sudah ditakdirkan menyatu di satu titik, di depan sana, nanti, segera”, do’a memelas hati selalu dihadirkan setiap saat, setiap namamu melintas tersirat, lalu sudah pasti saya akan lari-lari kecil mencari langit, menerbangkan doa-doa seperti bunga dandelion yang tertiup udara hangat.


Tetapi, begitulah kita, Mas, seperti langit dan laut. Memang secara alamiah harus terpisah. Kita lahir dengan latar belakang berbeda. Kita mengakar dan tumbuh ke arah yang berbeda. Kita tidak difasilitasi semesta sebuah titik untuk bertemu, mengenggam erat, menyatu. Sederhananya, langit terlalu tinggi untuk diraih, terlalu jauh untuk direngkuh. Laut tidak mampu untuk itu.


Langit mendadak mendung, ombak lautan mencakar-cakar, e-Mail masuk dari maskapai mengingatkan waktu penerbangan sebentar lagi. Saya beranjak dari pantai, bersiap menuju bandara. "Saya pamit yaa, Mas", satu-satunya kalimat ungkapan hati dari tepi pantai di sebuah negara sepi penduduk, yang sangat ingin saya tinggali, kalih panjenengan.

Jumat, 09 Desember 2022

Hari dimana Semua Berhenti

Saya punya daftar hari-hari yang sangat saya takuti, hari-hari yang saya harapkan tidak akan pernah tiba, tidak akan pernah bersinggungan dengan hidup saya. Salah satunya adalah hari pernikahanmu. Karena saya tau, sejak awal saya tidak akan pernah menjadi bagian dari hari pernikahanmu. 

Sampai siang hari yang sangat panas dan gersang itu tiba. Suara blender dari jus strawberry sempat mengaburkan satu pesan masuk. Tidak lama, masih berdiri di kasir, belum membayar jus strawberry yang hampir jadi, saya lihat ada foto kontak yang saya tunggu-tunggu muncul di layar handphone. Tentu saja itu pesanmu! Hati saya membuncah kesenangan, tapi ada satu ruang di sana yang mengingatkan, bisa jadi ini bukan hal yang menggembirakan untuk saya. 
 
"Salam... tanpa mengurangi rasa hormat, perkenankan kami mengundang Saudari untuk menghadiri acara kami..." kalimat itu yang saya baca pertama kali. Berhenti. Semuanya berhenti. Suara blender jus, berhenti. Kasir yang mau memberi kembalian, berhenti. Pancuran air tempat mencuci buah, berhenti. Suara kendaraan dan klakson di jalan raya, berhenti. Udara yang berisik, berhenti. Ranting-ranting pohon tidak lagi bergesekkan, mereka berhenti. Matahari yang pamer kemampuannya sejak pagi, juga ikut berhenti. Waktu, berhenti. Bumi, berhenti. Badan saya berhenti, kaku sekujur tubuh, ada literan air mata tertahan, berhenti. 
 
Berhenti adalah suatu tanda proses penolakkan, pergolakkan. Seperti buruh yang tidak terpenuhi haknya memilih berhenti bekerja, seperti orang-orang yang mencari keadilan memilih berhenti di sepanjang jalan. Saya menolak dan masih berusaha mengelak, tidak, bukan hari ini, tolong jangan hari ini. Saya memohon sejadi-jadinya. Masih banyak rindu yang belum sampai kepadamu. Ada cinta yang lebih luas dari langit yang harus kamu terima.  
 
Apa saya harus putar arah, ambil jalan lain, agar tidak berpapasan dengan hari ini? Apa yang harus saya lakukan agar hari ini tidak pernah terjadi? Atau saya harus sembunyi agar tidak bisa ditemukan oleh hari ini? Saya tidak mampu mengubah garis takdir. Mobil saya berhenti di hutan tepi kota. Saya biarkan semua yang berhenti untuk bergerak kembali. Air mata, marah, kecewa, klakson mobil juga ikut berteriak pilu. Sinar matahari dan pohon-pohon merunduk, melihat saya, nanar, kasihan. Sebaliknya, saya melihat semuanya dengan pandangan buram, air mata sudah tidak mampu ditahan. Lagi-lagi kita semua tidak punya kekuatan untuk tidak bertemu dengan apa yang sudah ditakdirkan, ya kan?
 
Di hari dimana semua berhenti, saya harapkan cinta dan rindu saya kepadamu ikut berhenti. Tapi, ternyata tidak. 
 
 
Pesanmu masih terbuka sejak siang hari 4 November 2022, pesan yang tidak akan pernah saya balas, undangan yang tidak akan pernah saya hadiri.

Jumat, 26 Agustus 2022

Doa Saya, Semoga Saya Tidak Pernah Pikun

"Siang ini bisa kita ketemu dan ngobrol?" Pesan ini sempat membuat saya membeku 8 menit, yang disusul pesan masuk baru lagi. "Maaf mendadak, tempatnya sampean yang tentukan ya:)". "Iya, kabarin kalau sudah perjalanan, nanti bakda jum'atan sekalian aja:)". Saya senyam senyum sambil pilah pilih baju. 
 
Menjelang sore, dia baru sampai. Saya pilih tempat makan di tengah kota dengan banyak tumbuhan dan taman, sejuk tempat ini. Bersama manusia super-sejuk. Saya makan Selat Solo dan dia pilih Capcay, banyak sayuran, itu alasan dia. Yaa kalau saya jelas tidak punya alasan, asal tunjuk buku menu saja, karena dia makin membuat saya membeku. 
 
Djajanti Kitchen & Coffee: 
Sampai sekarang, saya belum punya nyali untuk sekedar lewat di sekitar sini.
 
Dia banyak bercerita, ibunya, keluarganya, pendidikannya, sampai dia yang dijauhi beberapa orang karena prinsipnya. Di setiap ceritanya selalu saya melihat cintanya yang menggebu kepada Tuhan. Saya -sang pembicara ulung ini- memutuskan menjadi pendengar dan perekam, sekaligus pengagumnya.
 
Detik itu, saya berdoa "Semoga saya tidak pernah pikun, semoga saya tidak pernah lupakan dia". Dari sekian banyak pilihan untuk mengajaknya berfoto atau justru memfotonya diam-diam sebagai kenangan, saya memilih untuk mengabadikannya di dalam ingatan saya, sedalam apa yang mampu ditangkap oleh indra.
 
Betapa seluruh indra saya paksa bekerja maksimal selagi duduk berhadapan. Aroma tubuhnya, wewangian kayu bercampur dengan aroma matahari, mengingatkan saya dengan ciri khas hutan tropis, rindang banyak pohon dan sesekali muncul matahari dari balik dahan. Suaranya berat, nafasnya berat seperti suara planet di luar angkasa yang berhasil direkam oleh NASA. Kulitnya coklat tua -sangat, bahkan cenderung hitam, nampak sedikit kasar, pori-porinya lebar, ada warna belang juga di pergelangan tangannya, menjadi bukti kisahnya sebagai lelaki desa 30an tahun yang suka berkebun, ke sawah, dan melakukan berbagai aktivitas luar rumah lainnya. Rambutnya bergelombang, lucu sekali kalau basah karena keringat. Alisnya tebal. Dia memelihara jenggot, sangat lebat. Giginya renggang-renggang, besar-besar dan putih jelas karena dia bukan perokok. Tidak terlalu tinggi, tapi cukup untuk saya tanpa protes ini itu. Dia pakai flanel kotak-kotak coklat, celana kain coklat, sepatu converse coklat -agak buluk dengan sedikit jahitan tangan di ujung sepatunya, sambil membawa tas hitam.
 
Detik ini dan setiap detik, saya semakin takut pikun. Saya berdoa lagi, diulang-ulang lagi, "Semoga saya tidak pernah pikun. Saya takut kalau sampai tiba waktunya semua detail kecil pertemuan kami kabur dari ingatan saya. Saya takut tidak bisa lagi mengingat seperti apa wanginya, suaranya, nafasnya, warna kulitnya, rambut, gigi, kedua matanya, senyumnya. Saya takut tidak mampu lagi mengingat dia dan semua getar di dada. Saya takut dia mati di dalam pikiran saya."
 
Nanti... 30 - 50 tahun lagi, saya masih mau mengingatnya -lelaki yang menempuh 43 km 1 jam 21 menit dengan motor warna biru untuk menemui saya- melalui rekaman indra di tubuh saya, yang hasil rekamannya disimpan dalam memori ingatan. Dan saya mau dia selalu hidup dalam ingatan saya, semampu saya mengingatnya dan detail-detail kecil hari itu tentang dia.







Semarang, 6 bulan setelah pertemuan pertama itu, namanya masih menjadi yang pertama saya cari di antara daftar kawan-kawan yang melihat stories media sosial saya.

Kamis, 26 Agustus 2021

Memelihara Kupu-Kupu

Aku punya kerabat jauh, jauh sekali sepertinya sampai aku sulit menjelaskan hubungan kami berasal dari siapa yang ditarik dengan garis keturnan yang mana. Dia sangat terkenal sebagai peternak kupu-kupu. Suatu kali, aku berkunjung ke sana. Melihat rumah kayu jati besarnya, kendaraan bagusnya, meja makan berbentuk lingkaran yang penuh makanan, kolam renang dengan tegel biru dan air yang jernih, halaman rumput luas, kebun kecilnya dengan pohon-pohon yang tidak pernah berhenti berbuah, apalagi disana udara dan anginnya sejuk semilir khas pedesaan di kaki gunung. Dia seperti sudah punya segalanya, dia seperti bisa melakukan apapun, kecuali bahagia.

Dia mengajakku berkeliling, sampai pada tepat jantung rumahnya, ada rumah kaca berisi banyak kupu-kupu. Besar sekali, bisa dibayangkan bangunan ini hampir seluas lapangan bola dikelilingi dinding kaca dan penuh dengan kupu-kupu cantik warna-warni. Pantas seluruh kota berbisik-bisik membicarakannya. “Kenapa sih dia sampai harus beternak kupu-kupu sebanyak itu?” “Apa dia ga pernah kepikiran buat melepaskan kupu-kupunya sedikit demi sedikit?” “Kupu-kupu itu lepas juga dia ga akan rugi, toh udah punya semuanya” “Ah udah lah, kalau rumah kacanya retak kan dia juga yang bingung” “Buat apa juga beternak banyak kupu-kupu kalau tidak bahagia”.

Rasanya belakangan ini ‘tertawa’ menjadi kata tabu untuk diucapkan di hadapannya. Bahkan, kabar kemurungannya sudah tersebar sampai kota sebelah. Orang-orang berkali sudah mengingatkan. Memang sih, satu atau dua kupu-kupu nampak indah, tapi kalau sudah bertahun-tahun dipelihara dan hampir membuat meledak rumah kaca ya jelas lah dia yang egois itu sekarang tidak tau harus bagaimana.

Aku, yang juga memelihara kupu-kupu di dalam dada, juga tidak tau harus bagaimana.

Berawal dari hari itu, melihatmu sekilas dan tersenyum, satu kupu-kupu tumbuh di perutku. Sampai di rumah aku lanjut cari tau tentangmu pakai handphone Blackberry yang sinyalnya mentok di Edge, lalu satu kupu-kupu tumbuh lagi. Besoknya, aku berangkat pakai parfum yang banyak sekali, di jalan membuat skenario harus menyapamu pakai bahasa apa ya hmm, dan tidak terasa belasan kupu-kupu tumbuh sembari aku menunggumu lewat di koridor pagi itu. Semakin lama tau, semakin banyak oku memelihara kupu-kupu dari perut yang berterbangan sampai menggelitik dada. Bikin senyam-senyum, geli. Iya, mencintaimu terasa memelihara banyak kupu-kupu di dalam dada. Menahun, terus aku pelihara.

“Kenapa sih kamu pelihara kupu-kupu sebanyak itu di dadamu, sudah bertahun-tahun loh?” “Pernah kepikiran ga sih buat ngelepasin satu per satu kupu-kupu itu?” — aku yang egois ini juga tidak tau sekarang harus bagaimana.

You made butterflies grow in my lungs, even though they are beautiful… I can’t breath.


Minggu, 13 Desember 2020

Waktu

 



Benar ngga sih si- mesin waktu itu? Apa iya ada time traveler? Kemarin lihat di berita ada Manusia Futuristik dari 2030 lengkap dengan gadget, pakaian, dan gaya milenium-nya yang tertangkap kamera sekitar tahun '90an. Wow. Kalau benar, berarti manusia itu mundur lebih dari 30 tahun. Dan, kalau benar lagi, saya juga mau nebeng, deh, hehe.

Izin numpang si- mesin waktu. Saya tunggu di 2020 ini untuk mundur, sebentar kok, tidak sampai 30 atau 50 tahun ke belakang, cuma 8 tahun yang sudah lewat saja, hehe iya saya mau naik mesin waktu sampai 2012. 

Saya mau berhenti sebelum tahun 2012. I wish I never met you. Saya ndak mau bertemu njenengan.

Kamu membuat saya memusuhi waktu. Mulai dari uring-uringan sendiri, kenapa sih waktu itu harus bertemu, harus sempat kenal, kenapa juga sih waktu bahagiamu selalu diwujudkan melalui senyuman pakai bonus kedua matamu yang berbinar pula, huh, ya jelas lah saya jatuh cinta sejatuh jatuhnya pada pandangan pertama.

Berkali-kali saya mengutuk waktu. Bisa tidak sih, si-waktu tak perlu lah tepat-tepat banget, agak lambat atau sedikit lebih cepat juga tak apa, supaya sore yang melelahkan itu saya tidak perlu melihatmu. Kamu yang berdiri mematung bermandikan cahaya matahari -hampir- tenggelam dan saya yang cuma bisa senyam senyum. Kacau nih kalau waktu dan semesta sudah kompak begini. Saya semakin sayang kamu.

Meski daripada mengutuk, saya tetap lebih sering menangisi waktu. Memohon sejadi-jadinya untuk mengobrol panjang denganmu sekali lagi. Oh tidak, permohonan itu terlalu sulit. Baik, cukup bertemu duduk berdua, atau cukup berpapasan kalau begitu. Dan terus terjadi negosiasi antara saya dan waktu. Sampai pada akhirnya saya yang mengalah, ya paling tidak biarkan saya melihat kamu dari jauh juga tidak apa, tanpa menyapa tanpa berbicara, hanya sebatas punggungmu pun akan membuat saya jejingkrakan semingguan.

Sungguh, saya ingin berdamai dengan waktu. Sungguh, satu-satunya cara adalah pergi dengan mesin waktu agar tidak pernah bertemu kamu. Saya tidak mau bertemu kamu di penggalan waktu manapun, tidak hanya di 2012, tidak hanya di 2030. Karena di kehidupan selain ini pun, jika waktu membuat kita bertemu, toh saya juga tidak bisa janji untuk tidak merayakan dirimu. He-he.

Sabtu, 27 April 2019

What If

 
What if, there are no 'what ifs'?
Bagaimana jika tidak perlu ada ribuan pertanyaan di kepala yang diawali dengan 'bagaimana jika'?

Bagaimana jika ternyata masih mengidamkan wanita dengan kelas sosial yang sama. Bagaimana jika pemikirannya masih tetap saja memandang saya dengan stereotip yang sama.

Bagaimana jika ribuan kabel-kabel transparan di planet ini yang saya rajut tidak pernah terhubung kepada jiwamu. Saya selalu percaya setiap membisikkan namamu pada semesta, pada angin yang berhembus yang menggerakkan ranting pohon, di atas tanah dengan getaran yang sama, ketika matahari setengah tenggelam, saat itu seharusnya ribuan kabel transparan terhubung, menguat, menggetarkan. Namun, bagaimana jika di tengah jalan ribuan kabel transparan itu terputus, atau kusut karena penerima tak ingin menampung besar frekuensi yang saya kirim.

Bagaimana jika jiwa kita sudah pernah bertemu di kehidupan sebelum ini. Kehidupan yang jauh berasal dari tahun dan waktu yang belum di-angka-kan seperti sekarang. Kehidupan yang bisa jadi lebih kompleks daripada sekarang dan kita adalah reinkarnasi dari sepasang ikan dimana salah satunya terbawa arus sungai yang deras dan yang satunya masih saja setia menunggu di sebuah pertemuan dua arus sungai. Atau justru, kita adalah jelmaan matahari dan bunga matahari, ketika yang satu pergi terbenam, yang satu lagi tak ada kemampuan untuk mengejar. Bagaimana jika di kehidupan mana pun, jiwa kita bukan untuk menjadi satu utuh.

Bagaimana jika setiap getar rindu di hati menyebabkan hujan guntur dan gelombang pasang di samudra Hindia. Warga pesisir, deretan pohon kelapa, dan triliunan makhluk hidup di sana akan bertanya-tanya. Mengapa matahari tidak pernah terbit. Mengapa sedikitpun laut tak pernah surut. Mengapa sehari-hari hanya menyaksikan hujan guntur dan gelombang pasang. Maka, saya tidak akan pernah menyesal telah merindumu setiap hari.

Bagaimana jika semesta tidak pernah mendukung. Bagaimana jika pepohonan, gunung, hutan rimba, laut tidak mau ikut serta membantu saya menuju dirimu. Bagaimana jika setiap saya maju satu langkah, njenengan justru mundur dua langkah, Pak?

Bagaimana jika tidak perlu ada 'bagaimana jika'? Tidak, saya tidak setuju.
Biar saja semua pertanyaan 'bagaimana jika' ini tumbuh berkembang memenuhi kepala saya, sebagaimana saya mengizinkan diri saya mengkhawatirkan dirimu lebih banyak lagi di waktu yang lebih lama lagi.



Semarang, 27 April 2019
Selalu merindu.

Sabtu, 02 Februari 2019

Kolam Renang yang Menghijau

Padahal ini baru awal tahun, baru setengah perjalanan musim dingin, tapi sudah tidak sabar bertemu pertengahan musim panas.

Pertengahan musim panas. Angin gersang berhembus, debu berserakan, jalanan kota tak karuan, klakson berbunyi, keringat mengucur, langit putih keemasan bukannya biru muda. Botol air minum kemasan berserakan di jalan, air di bak mandi tidak pernah luber lagi. Makhluk hidup pontang-panting mencari teduh, mencari sejuk. Pertengahan musim panas yang mencapai klimaks.

Anak perempuan berlari menuju kolam renang siang hari. Biasanya ramai, tapi sekarang sepi. Mengapa? Di kondisi carut marut kekurangan air begini kok kolam renang sepi. Hanya ada satu penjaga karcis dan anak perempuan itu yang sedang memandangi kolam renang. Sudah sekian puluh menit dia hanya berdiri, duduk, memainkan air dengan kaki, lalu kembali berdiri di tepi kolam renang yang airnya menghijau itu.

Kolam renang yang airnya menghijau. Bertemunya air sejuk dan matahari hangat di pertengahan musim panas membuat ganggang lebih cepat tumbuh, yang membuat warna air kolam berubah menjadi hijau. Pekat. Sampai tidak terlihat dasarnya. Hanya sedikit yang mau berenang di kolam seperti ini. Sebagian besar terlalu takut tenggelam. Tenggelam menjadi satu-satunya risiko dari jarak pandang yang pendek ini. Itulah yang membuat anak perempuan itu terus menimbang. Apakah dia mampu berenang? Apakah dia mau tenggelam?

Dia memutuskan untuk berenang dengan risiko tenggelam. Anak perempuan pernah bertemu seseorang. Seseorang itu seperti laut. Ombaknya menghempas-hempas, anginnya terasa asin tidak bersahabat, batu karang berjajar seolah menjadi pembatas yang sulit, burung camar yang berterbangan liar. Belum lagi matahari di ujung cakrawalanya yang sinarnya membutakan. Betapa seseorang itu membentengi dirinya sedemikian rupa. Apalagi matanya, seperti pusaran air kehijauan tanpa cahaya, tanpa dasar, jauh tak tergapai, sepasang mata yang siap menenggelamkannya.

Jadi, anak perempuan memutuskan untuk berenang di kolam renang yang airnya menghijau ini, meski dengan risiko tenggelam. Sungguh, percayalah, tenggelam di kolam renang ini jauh lebih baik daripada dia tetap berada di kota yang sama, dengan seseorang yang matanya seperti pusaran air laut, yang siap menenggelamkannya. Anak perempuan hanya tidak sanggup tenggelam lagi di matanya. Menahun mencari secercah cahaya jalan keluar, tidak ada yang namanya mudah. 

                                
 
"Matamu mengingatkanku pada kolam renang yang menghijau di pertengahan musim panas", kata anak perempuan itu, memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam kolam renang, tersenyum, tanpa takut tenggelam, karena dia pernah menahun tenggelam di pusaran yang lebih kuat, di air menghijau yang lebih pekat, di dasar yang tidak ada dasarnya, di kedua matamu.

Jumat, 05 Oktober 2018

Wonderwall

 
Siapa pun pasti punya satu lagu yang selalu ada di playlist favorit, meski puluhan kali ganti hape, lagu itu terus disimpan, dipindahkan dari hape lama ke yang baru, lalu ganti hape lagi, dan dipindahkan lagi. Saya punya satu lagu itu. Wonderwall.

Wonder; bertanya-tanya. Wall; dinding.
Wonderwall -menurut saya, karena tidak pernah menemukan arti lugasnya di kamus- sesuatu yang membuatmu selalu bertanya-tanya dan memenuhi dinding-dinding pikiranmu.

Beberapa tahun lalu, saya pernah piknik. Piknik mengunjungi pikiran saya sendiri. Lanskap hutan lebat dengan mayoritas hijau tua dari dedaunan hingga batu yang berselimut lumut. Sesekali sinar matahari menembus celah-celah pohon memantulkan cahaya pada embun pagi. Terdengar suara daun bergesekan satu sama lain digerakkan angin. Saya bisa duduk di bawah pohon besar dan menghirup nafas dalam, sambil tersenyum saya berkata "tempat ini damai, pikiran saya tenang".

Kemarin, saya piknik lagi, berkunjung ke pikiran saya sendiri -lagi. Berkemas beberapa jam sebelum berangkat, pergi mengendap-endap, takut ketahuan Ibu, katanya saya sering over-thinking belakangan ini. Sesampainya, bukan lagi lanskap hutan hijau, melainkan saya berada di sebuah ruangan seperti galeri seni. Cahaya matahari yang menyelinap di antara celah pohon digantikan lampu-lampu berkilauan yang diimpor mahal. Suara perempuan yang mirip dengan suara saya mengucapkan banyak hal yang belum sempat saya pahami ternyata mampu menggantikan suara gesekan dedaunan yang digerakkan angin kala itu. Saya yakin tidak salah jalan. Ini benar pikiran saya. Tapi kenapa lanskap berganti. Ada apa ini.

Ternyata, lanskap pikiran saya berubah sesaat setelah saya bertemu kamu. Ruangan itu seperti galeri seni, di setiap dindingnya dipamerkan foto-fotomu. Ya, dinding-dinding pikiran saya penuh dengan rupamu. Foto saat kamu tertawa terbahak dengan gigi geraham berlubang terlihat jelas, dan pupil mata yang melebar. Atau foto saat kamu berjalan di koridor, sungguh di antara lautan manusia saya akan tetap mencarimu, menemukanmu pertama kali. Foto yang dipajang di dinding itu paling banyak diambil dari foto-foto media sosialmu sebagai satu-satunya tempat saya bisa melihatmu setiap saat. Tapi di antara semua foto itu, ada satu foto dengan resolusi tinggi dicetak besar digantung pada dinding utama, yaitu foto kita berdua di depan masjid selepas bimbingan siang itu, katanya foto yang berada pada dinding utama adalah hal yang paling sering dikhawatirkan, hal yang membuat sedih dan bahagia di waktu bersamaan.

Khawatir. Itu adalah benang merah yang dapat saya tarik kesimpulan dari arti Wonderwall bagi saya sendiri. Karena khawatir, maka dinding-dinding pikiran saya dipenuhi oleh segala pertanyaan tentangmu.

"Apa kabar?"
"Bagaimana jika kamu sedang tidak baik-baik saja?"
"Di mana kamu sekarang?"
"Siapa yang sedang kamu pikirkan?"
"Mengapa memberi syarat-syarat yang tak mampu saya tembus?"
Dan ..... "Kapan bertemu lagi?"

There was many things that I would like to say to you
But I don't know how
Because maybe, you're gonna be the one that saves me
And after all, you're my wonderwall

Dan setelah semua yang terjadi, njenengan tetap menjadi yang-saya-khawatirkan, Pak.

Kamis, 04 Oktober 2018

Semesta


Saya pandai menceritakan benda-benda langit. Mulai dari yang sederhana seperti bintang, bulan, matahari, sampai istilah god's particle, black hole, worm hole, atau sekedar bercerita kenapa hanya planet saturnus yang punya cincin atau kenapa galaksi kita disebut galaksi bima sakti. Itulah semesta bagi manusia.

2012, Jumat pukul 13.00
Saya melihat semesta, bukan di film, untuk pertama kalinya. Manusia dengan mata berkilauan seperti Komet Halley 1/P yang melewati bumi setiap 76 tahun sekali, mata yang selalu menatap ke bawah, mata yang tidak pernah melihat mata-mata yang lain, pancarannya yang tak pernah kau bagikan. Dengan kulit gelap seperti malam ini dan setiap malam. Tarikan nafasmu berat, terdengar seperti luar angkasa yang sunyi, menakutkan tapi aku tenang berada di sana.

Perkenalan singkat membuat telapak tanganmu terlihat begitu jelas, susunan galaksi bima sakti berbaris berhimpitan, betapa benda langit pun berebut untuk berotasi di garis tanganmu. Kalimat yang muncul memercikkan partikel atom bermuatan positif. Saya tau, betapa dirimu selalu proton, betapa diri saya selalu neutron. Lalu kau membuat simpul senyum, dan mendadak teori gravitasi yang menghabiskan belasan tahun dari hidup Isaac Newton menjadi tidak berguna dalam hitungan detik. Inikah black hole yang bisa membuat manusia menggunakan jalan pintas menuju dimensi lain? Lalu mengapa semua astronot itu bingung? Sementara saya, sedang berhadapan langsung dengan jalan pintas menuju dimensi kebahagiaan itu; njenengan, Pak.

Itulah semesta bagi saya. Dinamis.
Saya tidak pernah mampu menggapai keindahan-keindahan itu.

Teruntuk anak lanang bungsu pemilik rumah bewarna hijau menghadap hutan pohon jati dengan jendela kayu untuk mengintip halaman penuh rumput; bagi semesta kau hanyalah seseorang, tapi bagi seseorang, kau adalah semestanya.


Minggu, 17 Juni 2018

Dua



Tinggal dua.
Saling bersandar, saling bergantung.
Jika yang satu 'melepaskan', apa jadinya yang satunya.

Begitu pun yang kudoakan.
Berdua, duduk bersebelahan menikmati ketupat kering bersama sisa opor yang ayam-ayamnya terlepas dari tulangnya akibat berkali-kali dipanaskan. Ya, bersebelahan. Berharap ketika bagian tubuh kita bersentuhan, pori-porimu mengeluarkan banyak informasi tentang pikiran-pikiranmu, tentang perasaanmu, lalu dalam sepersekian detik, informasi tentang dirimu masuk melalui jutaan pori-poriku, menyatu dengan darah dan dipompa menuju otak untuk kucerna hingga aku mampu memutuskan apakah informasi itu cukup kuat untuk dijadikan senjata perang dan terus maju ke depan, atau justru lebih lemah dari kain bendera putih tanda kemenyerahan.

Sementara kita masih duduk bersebelahan di meja makan bawah tangga. Di bahumu tertanam penyangga, di kakiku terdapat fondasi. Apabila kau berdiri lalu pergi, terbayang apa jadinya aku. Apabila aku beranjak lalu pergi, tak bisa kubayangkan apa jadinya dirimu. Betapa kita harus saling bergantung satu sama lain. Agar tidak ada yang mampu melepas. Agar tidak ada yang mau dilepas.

Meski ada beberapa malam kuterlalu takut untuk berdoa, menyadari betapa tidak pantasnya. Namun, tentu saja lebih banyak malam untuk meminta agar dapat bersandar, agar sampean mau bergantung sama saya.

Jumat, 15 Agustus 2014

Kecanduan





Gelisah, takut, tidak bisa diam, tidak nafsu makan, hingga semangat menggebu semuanya menjasi satu. Di kota orang jauh dari sana-sini penyakit ini kambuh. Candu. Saya kecanduan.
Sebeginikah dalamnya kau pengaruhi urat syarafku?

Ingin makan pun rasanya iri dengan sendok dan garpu yang berduaan saling setia. Bukannya lemas karena tidak makan, justru tubuh ingin terus bergerak tidak mau diam, kontraksi-kontraksi otot terasakan kembali. Kedua tangan menggenggam handphone erat, otot menguncinya. Namun, masih tetap saja tak saya temukan nama lengkapmu berhuruf kapital muncul di layarnya. Sekedar bertukar kabar pun tidak. Bukan hanya ingin, saya benar-benar butuh. Saya sakau. Jangankan di kota orang, di kota sendiri pun taknpernah bertemu di satu titik. Oh Tuhan, titip salam, titip rindu, titip dia. Betapa gelisah dan khawatir tak satupun tanda alam menyampaikan kabar tentangmu.

Menjajaki tahunnya yang ke-empat, dosis ini semakin tinggi. Bahkan jarak dan waktu tak berkuasa untuk mengobati candu ini. Andai kau dapat melihat dirimu dari sudut pandang saya, betapa dirimu sungguh membuat candu.

Saya positif terjangkit.
Mari candui satu sama lain, saya (masih) tunggu!



Salatiga, 16 Juli 2014, Kamar Kos.

Senin, 23 Desember 2013

Nahkoda



Belakangan saya merasa iri dengan beberapa orang yang memiliki quality-time yang begitu quality-time dengan kakak ipar atau adik iparnya. Saya jadi kepingin.

Saya ingin punya anggota keluarga baru. Canda baru, suasana baru, hari baru, hidup baru. Pokoknya saya mau punya anggota keluarga baru. Karena kakak atau adik ipar tidak mungkin saya miliki, maka... kamu saja!
Apa saya juga perlu melakukan racruitment untuk memiliki? Untuk memilikimu?

Jadi, wahai makhluk berpostur tinggi besar dengan kulit -yang semakin- hitam, maukah kamu menjadi anggota keluarga saya? Bagian dari keluarga inti saya. Jadi menantu tunggal Ibuk dan Bapak.

Untuk menemani Ibuk ke pasar setiap pagi buta, menemani Bapak nongkrong sambil melihat kilauan lampu kota, membantu Bapak mengurus ayam-ayamnya dan Ibuk dengan ikan-ikannya. Memasakkan kopi untuk Bapak dan merebus pisang untuk Ibuk. Memainkan beberapa putung rokok di tangan beraama Bapak  dan memerhatikan Ibuk yang semakin mahir dengan Game Vector-nya. Menjadi penutup mata untuk saya saat puluhan film horor   menghantui untuk dilihat.

 Lepas dari itu semua, jadilah nahkoda tangguh untuk kapal kita yang akan berlayar ke ujung dunia. Sembari menanti anak buah kapal yang sudah menggedor perut anaknya Ibuk. Tidak ada yang bilang ini semua mudah. Dari perahu untuk menjadi kapal pesiar tentulah butuh komitmen dan kerjasama yang baik.

Pelabuhan akan selalu menunggu kita. Bersamamu, aku tidak lagi takut menjadi asisten nahkoda.




Teras Belakang, 23 Desember 2012, 21:07 WIB ; Kira-kira kita butuh berapa Anak Buah Kapal, wahai Nahkodaku?

Senin, 25 November 2013

Masih dan Akan Terus

"Usia saya 50 tahun. Setengah hidup ini saya habiskan untuk mencintai satu orang laki-laki yang sama di setiap detiknya."

"Hebat! Hingga detik ini?"

"Ya, hingga detik ini saya masih dan akan terus mencintainya dan berharap dia tau."

Kedua mataku berkaca, beberapa tetes air justru menyembul dari ekor mata. Senyum lembut ikut tersimpul di antara bibir ini.
Wanita terkuat yang pernah kutemui perlahan melenggang pergi menjauh.









Rumah, 25 November 2013, 22:38 ; Mbrebes mili.

Senin, 18 November 2013

Membotolkan-mu

                                 

Hujan hidup lagi setelah beberapa bulan entah mati atau vakum.
Hujan masih sama. Masih suka membuat genangan kenangan. Masih suka membuat dingin yang menusuk tulang. Masih suka membangunkanku di sepertiga malam untuk sekedar pamer 'ini aku bisa melukis wajahnya di kaca jendela kamarmu dengan embunku'.

Aku tidak tau mengapa hujan yang jatuh selalu membuat jatuh hati. Sama seperti aku tidak tau mengapa jatuh hati begitu sulit didefinisikan. Aku hanya tau tentang dua hal; yang pertama bahwa memikirkanmu cukup membuat hatiku nyeri dan yang kedua aku tidak mau kamu jatuh sakit. Sesederhana itukah aku mendefinisikan jatuh hatiku kepadamu? Ya!

Dari semuanya, aku hanya ingin kamu menjauh dari hujan. Pakai mantel yang tersimpan di kendaraan roda duamu dengan baik. Bawalah payung lipat kemanapun kamu pergi. Jika perlu gunakan plastic-shoes jikalau hujan suka nakal menerobos sepatumu. Maaf Hujan, aku lebih sayang kepada sang calon Nahkoda kapal kami.

Jika saja kamu mau, aku akan membotolkan-mu. 

Berharap aku dapat memilikimu seutuhnya, menahanmu tetap di sini, melakukan satu atau lebih kegilaan baru, menjagamu, mendengarkan musik bersama, saling membaca dan dibacakan buku, mengobrol banyak. Menghangatkanmu. Lalu, meminum-mu.

Sudah aku bilang, kelak kita adalah satu.

Jadi, cepatlah ambil keputusan...







Rumah, Semarang, 18 November 2013, 20:01 ;
Sebelum musim hujan selesai, sebelum jatuh hatiku selesai.




Minggu, 17 November 2013

Sayang-nya Naksir

Jika hidupku adalah kamus, mungkin hanya ada tiga buah kata di sini: Aku, Kamu, dan Naksir yang sudah diurutkan sesuai alphabet.

Aku naksir berat dengan segala sesuatu yang ada padamu. Rambut ombak berantakan, kulit hitam keringatan, badan kekar tinggi besar, berjambang dan kumisan. Ah mirip penyanyi luar negeri favoritku. Aku suka ketika kita berpapasan atau hanya berjalan depan-belakang.

Ya begitu saja. Sudah.
Aku naksir kamu sebatas itu saja. Sebatas serat-serat tubuhmu yang mampu kujangkau. Sebatas bahasa tubuh yang terlihat begitu mengayomi. Sebatas suara berat yang lebih sering digunakan untuk tertawa. Sebatas tangan hangat yang ahli mengenggam rokok bermerek hitam.

Tanpa pernah aku berpikir sedikitpun bahwa kelak kamulah yang akan bicara ngalor-ngidul kepada Bapak untuk meminang putri tunggalnya, atau tentang pernikahan sakral yang menjadi mimpi terbesar sebagian orang, tentang membesarkan buah hati bersama, bahkan tak sedikitpun terbayangkan bahwa kelak tanganmulah yang kugenggam erat di saat menopause datang melanda.

Tidak pernah kutitipkan salam pada angin yang terhempas, pada tanah yang bergetar, pada air yang menetes, pada langit yang terik, di saat kita berpapasan aku hanya bahagia tanpa keinginan untuk menyapa. Seperti saat ini, aku hanya naksir tanpa keinginan untuk sayang.







Rumah, 17 November 18:37 ; Ya, untuk saat ini.

Selasa, 19 Maret 2013

Datang,Bulan






Angkat tangan. Aku menyerah. Bulan ini adalah daerah kekuasaanmu. Bulan ini memang bulanmu. Semakin semena-mena kau buat aku rindu.

Jika manusia ibarat hutan, maka pertengahan bulan ini, pohon di kehidupanmu bertambah satu. Entah harus aku bilang sudah ada 19 pohon -dengan penuh rasa syukur- ataukah dengan menyebut hanya masih 19 pohon di kehidupanmu -dengan harapan ke depan yang lebih luar biasa-. Akar pohon-pohon yang mulai menjalar jauh, membawamu semakin jauh. Atas nama masa-lalumu yang dangkal. Atas nama mimpimu yang pelit untuk sekedar kau bagi dalam cerita. Aku bahagia untukmu.

Ada banyak harapan yang bukan sekedar mengetik huruf ‘wyatb’.

Semakin banyak pohon yang tumbuh, hutanmu menjadi semakin rindang. Memberi banyak kehidupan untuk sesama makhluk Tuhan di dunia. Jadilah seseorang yang dapat bermanfaat bagi orang lain.

Semakin banyak pohon yang tumbuh, hutanmu menjadi semakin belantara. Angin kencang rajin bertiup. Sinar matahari hanya sesekali menelusup. Ancaman internal berupa emosi diri dan ancaman eksternal akan lebih sering menggelayuti tubuhmu. Jangan sampai kau tersesat di hutanmu sendiri.

Semakin banyak pohon yang tumbuh, semakin besar harapanku untuk dapat berlindung di sana. Untuk bermalam di hutanmu. Aku siap menemanimu kemanapun. Aku siap memelukmu ketika angin kehidupan mengobrak-abrik hutanmu semaunya. Aku siap menjadi wanita kuat untuk kehebatanmu kelak. Karena memilihmu adalah resiko yang akan selalu kuambil.

Sekali lagi, aku bahagia untukmu, bahagia untuk tumbuhnya pohon-pohon itu.
Tetap lestarikan hutanmu, hutan kita. Hingga pohon-pohon mencapai angka yang tak terhingga bersama cintaku yang tak terbatas.
Selamat datang, bulan Maret.




Rumah, Pertengahan Maret 2013, 16:08;
Selamat datang-bulan, Perempuan Maret

Rabu, 26 Desember 2012

Iqbali Wildan



Dasar bocah perempuan, imajinasinya selalu merekah.
Dasar calon ibu, imajinasinya mengalahkan kenyataan.




Semarang, 27 Desember 2012, 11:39; Ha? Mau?