Tampilkan postingan dengan label Galau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galau. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 November 2012

Tunggu!




Tunggu!


Suaraku melengking. Aku masih duduk di atas sofa, melihatmu berjalan menuju pintu. Aku tau kemana tujuan mu. Kau ingin membuka pintu yang kuncinya pernah dengan sengaja aku hilangkan itu bukan? Jangan khawatir, aku akan membebaskan mu berkelana, mencari hidup yang menghidupkan mu. Akan kuberikan kunci ini kepadamu.

Kau tidak menoleh, hanya berhenti sejenak dan menarik nafas panjang.

Saat itu juga aku ingin menggenggam tangan mu erat tempat aku mempercayakan harapan ku untuk kau genggam. Mengecup lembut kening mu dimana keringat kehidupan mengucur disana. Memeluk mu erat dan menyandarkan kepala ku di atas bahu yang ternyata masih sebagai secuil tempat ternyaman di dunia. Akan aku bisikkan kepada mu tentang suatu hal.

Aku lebih suka di-pandang daripada me-mandang. Aku lebih suka di-peluk daripada me-meluk. Aku lebih suka menjadi objek daripada subjek! Namun untuk kata dasar 'tunggu' aku rela menjadi subjek, aku tidak harus di-tunggu, tak apalah jika memang aku harus me-nunggu mu barang sejenak.

Tapi aku masih kaku di atas sofa tanpa sepatah kata. Aku mulai menangis tersedu, belajar merelakan seseorang yang dicintai untuk berbahagia bukan dengan kita memang sulit bahkan cenderung tidak bisa. Tapi kali terakhir ini aku harus bisa!

Tunggu!

Kau menoleh dan lekas aku berikan kuncinya.

Jangan langsung kau kembalikan, aku takut mengunci orang yang salah. Kalau perlu, bawalah kunci ini sampai ke kampus sebrang. Karena aku masih me-nunggu untuk kau masuk lagi dan menutup pintu yang terlanjur terbuka ini... Masih engkau.





Kamis, 1 November 2012, 21:40 ; Kelak aku akan di-tunggu.

Selasa, 30 Oktober 2012

Hutan




Saya kelewat merasa biasa saja dengan pertemuan pertama. Saya malas mencatat banyak hal di pertemuan pertama. Saya tidak terlalu memperhatikan detail tentang kamu atau detail dalam diri kamu. Ini bukan tentang hutan yang ternyata perantara Tuhan untuk mempertemukan kita pertama kali, tapi ini tentang saya yang mencoba melihatmu secara biasa. 


Waktu itu, saya belum kepincut dengan aroma tubuhmu yang ternyata perpaduan keringat bercampur dengan minyak wangi refill. Saya belum merasa sejuk ketika melihat empat matamu yang teduh seperti hutan dimana sinar matahari susah mencuri celahnya. Dari bibir tebal mu yang sedikit menghitam, saya masih salah mengambil kesimpulan bahwa yang sebenarnya hobi mu bukan menyulut rokok dalam-dalam atau bahkan ngopi di teras dengan kaki terlipat ke atas. Kamu perfeksionis? Ah ternyata kamu bandel.

Lalu keesokan paginya, masih pagi buta. Mendadak embun di kaca jendela kamar membentuk siluet wajah mu. Aroma tubuhmu menyeruak dalam-dalam. Saya kangen saat mata kita bertemu tidak sengaja dalam jeda waktu yang lebih singkat daripada detik di bawah pohon tengah hutan.

Sementara ada satu hal yang membuat aku kepincut, boleh ditambah banget; kamu pendiam mungkin cenderung pasif. Bukankah itu justru bersensasi? Seolah kantung teh celup bekas yang biasa saya gunakan untuk mengompres mata setelah begadang, seperti membosankan padahal hangat dan penuh sensasi.

Untuk pertemuan selanjutnya, mari masing-masing siapkan kertas dan pensil. Goreskan pensil di atas kertas agar mengeluarkan suara khas untuk memecah keheningan mu dan kebisuan cinta ini juga untuk membentuk susunan huruf yang saling menyanjung dalam diam...di dalam hutan. Mungkin...




Selasa, 30 Oktober 2012, 11:37 : Kelak, mari buat foto pre-wedding di hutan itu, Sayang.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Ala...y


Mungkin ternyata aku termasuk salah satu bagian di dalamnya sekalipun aku suka mendadak sakit perut ketika mendengar kata yang akhirnya ku putuskan untuk menjadi judul postingan kali ini.

Aku bukan tipe wanita yang membalas pesan singkat dalam waktu yang singkat. Aku hanya seorang wanita biasa yang membalas pesan singkat dengan sangat singkat.

Psssttt...
Sementara untuk mu, sayang, banyak hal yang sengaja ku buat berbeda.
Ketika LED Ungu memancar dari telepon pintar ini maka dengan segera akan aku tinggalkan semangkuk mie instant rebus ekstra bawang buatan Ibu yang asapnya masih menari kemana-mana, akan aku tinggalkan hujan yang sedari tadi mencari perhatian lewat kisi-kisi jendela, akan aku tinggalkan bulan yang masih terkunci dalam botol kaca, akan aku tinggalkan kunang-kunang yang sudah tulus menerangi hidupku dari pantatnya yang paling dalam. Juga akan aku tinggalkan masa lalu bahkan ku lupakan masa depan karena kamu sudah mewakili dari segala sisi kehidupan.

Maaf sayang, kali ini aku harus benar-benar menambahkan banyak huruf yang sejujurnya tidak terlalu dibutuhkan dalam sebuah kata; alay. Aku hanya sedang terlalu bersemangat untuk mengetiknya. Hujan menarik tangan ku untuk berkali menari di atas tuts. Bulan dengan tubuh bulatnya memaksa jari ku untuk menekan banyak tuts. Bahkan kunang-kunang ikut menerangi banyak huruf yang akhirnya harus aku ketik dan aku kirim untuk mu.

Karena pesan singkat untuk mu akan selalu aku kirim se-berlebihan mungkin. Seperti cinta ku kepada mu yang masih 'kegemukkan'.

Senin, 20 Agustus 2012

Terakhir


Kemarin lusa, timeline dan recent updates seperti dipenuhi dengan kata 'terakhir'. Puasa terakhir. Dan aku tetap keukeuh untuk menyebutnya sebagai penutupan puasa. Sudah ku bilang, aku tidak suka dengan kata itu!!!

Terakhir itu terkesan pesimis.
Aku...seorang anak tunggal yang -menuurt ramalan Jawa- tidak boleh menikah dengan pria sebagai anak terakhir di keluarganya, sementara kau adalah anak kedua dari dua bersaudara, ini alasan pertama mengapa aku tidak kepincut dengan kata itu. Menjadi seseorang yang di-terakhir-kan dalam hidupnya, sementara kita adalah lakon dari hidup kita masing-masing. Merayakan satu tanggal yang diulang setiap tahunnya untuk dirayakan terakhir kali. Terakhir itu tidak ada yang tau. Sudahlah, jangan menuhankan diri sendiri dengan kata itu!

Hanya di dalam dirimu, aku temukan kata 'terakhir' muncul sebagai oksigen yang menghidupkan pesimis yang mematikan. Karena ketika bersama mu, terakhir itu terkesan optimis.

Mengambil nama terakhir mu untuk diimbuhkan di nama belakang anak kita kelak dengan berusaha menjadikan mu yang terakhir di hidup ku.



Selasa, 21 Agustus 2012, 00:50 ; Akhirnya masih harus kamu!

Mencintai



Siapapun boleh anggap judul postingan saya kali ini terlalu standar, termasuk engkau.

Sementara untukku, mencintai itu memberi. Memberi tatapan untuk meyakinkan segala keraguan mu. Memberi senyuman ketika hari mu terlalu abu. Memberi bahu yang menjinakkan segala emosi logika mu. Memberi kedua lengan karena dingin terlalu menusuk tulang. Memberi celah jari tangan sebagai tempat jari-jari tangan mu yang lain karena kita adalah pelengkap. Memberi hati yang sengaja aku kosongkan agar kelak kau dan perut buncit mu tidak kesempitan untuk hidup di dalam sana. Memberi kebiasaan bahwa lebih baik memulai hari dengan kaki kanan. Memberi sesuatu yang memang hanya kau yang harus menjadi pemilik pertama sekaligus terakhirnya.

Sementara pepatah, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Sedangkan mencintai, sama sekali tidak menjadikan saya sebagai pemilik tangan di atas ataupun tangan di bawah itu.
Karena mencintai adalah menjadikan saya menjadi pemberi sekaligus penerima.

Asal berdua dengan mu, mencintai itu takkan sekedar cinta yang diberi imbuhan me-i.



Senin, 20 Agustus 2012, 11:50 ; Sekalipun mencintai terkadang seperti tiga huruf dibelakangnya.

Rabu, 28 Maret 2012

Password


Kata kunci... Eum apa ya?
Aku pernah membayangkan ketika aku dapat mengetahui kata kunci -terutama jejaring sosial- milik setiap orang. Pasti menggelikan. Ada yang huruf atau angka diulang berkali-kali. Ada yang tanggal lahir. Ada yang tanggal spesial. Malah, ada juga yang memjadikan nama seseorang sebagai kata kuncinya. Atau salah satu dari kalian ada yang sama sepertiku; terbodohi dengan angka dan huruf yang dikeramatkan sendiri.

Untukku, kata kunci bukan sekedar menekan tuts enam sampai duabelas kali, kalau hanya itu siapapun bisa. Kata kunci bukan sekedar mengetik tanggal lahir yang diketahui banyak orang. Kata kunci bukan sekedar mengetik angka atau huruf berulang-ulang agar tidak mudah lupa. Kata kunci bukan sekedar mengetik nama seseorang, yang jika patah hati, mau tidak mau harus mengganti kata kunci lagi dan lagi.

Kata kunci lebih dari sekedar itu semua. Kata kunci harus ada maknanya agar terpelihara dengan baik di antara otak dan di dalam hati.

Aku memilih huruf dan angka yang ku keramatkan dengan ribuan makna di dalamnya, sebagai kata kunci ku. Dari setiap angka dan huruf itu, sudah pasti, ada tentang kamu yang tersirat di sana. Kamu tersirat! Aku memilih kamu yang ku-tersirat-kan dengan ribuan alasan yang menjadikan mu sebagai kata kunci ku.

Untuk inisial mu, untuk inisial ku juga, untuk tanggal lahir, untuk plat nomor, untuk nomor absen, untuk angka di jam digital. Untuk huruf dan angka yang menyangkut tentang kamu, tentang aku, kita. Terimakasih sudah menjadikan password yang ku buat ini lebih bermakna.




Rabu, 28 Maret 2012, 00:00 ; Mengetik password dengan perasaan campur aduk, selalu.

Selasa, 18 Oktober 2011

Facebook


Tumben sekali saya dapat menikmati sore oranye seperti ini. Karena biasanya nyawa saya baru terkumpul sepenuhnya ketika penutup senja. Merasakan semilir angin di teras belakang, pandangan mata matahari yang tajam seakan enggan untuk tenggelam, puluhan burung sriti, duduk di bangku rotan, air mineral. Dengan mengenakan kaos 'lengan bloon' warna oranye dan celana pendek kuning tiga jengkal di atas lutut, membuat sore ini semakin segar saja.

Saya membuka laptop lama saya di sana. Yang hampir satu tahun tidak terlalu intensif saya gunakan, karena takut kehilangan satu dan lain hal; kamu dan halaman Facebook itu. Di layar dan setiap sisi tombol keyboard-nya banyak debu. Sementara itu saya mengumpulkan nyali dan menarik nafas panjang. Saya buat rileks hati. Saya ikhlaskan pikiran. Saya mantapkan situasi dan kondisi yang lain juga.

Lalu, akhirnya saya buka juga halaman Facebook. Warnanya masih sama, biru, warna favoritmu, warna mayoritas pria-pria lain juga yang pernah menetap di hatiku. Juga masih dengan akun Facebook yang dari satu tahun lalu belum saya 'keluarkan'. Dan saya akan tetap hati-hati agar tidak 'keluar'. Ya, saya hanya berani begini-begini saja. Mengecek notifications, mengecek friend request, mengecek message, mengecek album foto yang sengaja disembunyikan, mengecek status hubungan yang juga disembunyikan, mengecek apapun yang secara tidak jantan kamu sembunyikan. Dan hanya bisa saya lihat ketika saya -terpaksa- membuka -lagi- halaman Facebook di laptop yang satu tahun lalu pernah menginap di kamar kos mu sewaktu hujan itu. Saya tidak berani berbuat lebih. Karena saya tidak memiliki hak lebih atas akun Facebook itu, atas dirimu.

Tumben sekali sore ini ada yang berbisik banyak, seperti
"Cepat ganti passwordnya!"
"Kalau berani, kirim 'In A Relationship' status ke akun Facebook milikmu."
"Remove atau Block sekaligus saja teman-teman wanitanya yang cantik dan seksi itu."
"Setting ulang saja akun Facebooknya itu sesuka hatimu."
"Ayo berikan 'Like' untuk link blog perempuanhujan-mu atas nama akun Facebooknya."

Bisikan-bisikan itu seperti menantang. Tidak, bukannya saya tidak berani. Karena percuma adalah ketika saya sepenuhnya dapat menjalankan hidupmu yang jauh namun sedikitpun tak dapat meraih hatimu yang cukup dekat itu. Seperti berbangga hati telah memiliki mu namun kenyataan berkata saya hanya sedang memiliki 'boneka' yang 'mirip' dengan mu saja. Karena menurut saya, raga bukan apa-apa tanpa hati dan logika. Sementara yang paling saya butuhkan adalah memiliki mu seutuh-utuh-utuh-nya, sekaligus detail hidupmu juga.





Teras Belakang. Sabtu, 15 Oktober 2011, 17;09 ; Masih ada saya di antara daftar teman yang ingin menjadi teman mu.

Selasa, 04 Oktober 2011

Angin Malam


Rambut sebahu ku dan rambut mu yang mulai gondrong tertiup angin. Bergerak ke arah kanan, yang berarti angin malam kali ini datang dari arah barat. Bibir tebal mu cemberut, lucu. Aku ingin ketawa terbahak seperti biasanya kita bercanda. Namun kali ini, tersenyum pun rasanya tabu. Kau sedang banyak masalah bukan? Mungkin di antaranya ada tentang aku yang terselip di sana.

Aku masih berusaha banyak. Tidak sepertimu yang pasif itu. Aku coba memelukmu dari arah belakang. Perutku buncit, perutmu apalagi, tangan ku sedikit tidak sampai. Tapi bukan masalah. Aku hanya sedang ingin menyandarkan kepala ku di punggung mu. Karena sepertinya bahu mu -tempat favoritku- sudah ada yang menempati.

Angin malam, aku ingin minta tolong, sekali ini saja. Perlahan bersandarlah tepat di daun telinganya. Lalu ceritakan semua yang kau dengar dari dalam hati ku, yang kau baca dari air mataku, dan sesuatu di ujung dada yang bergetar lebih cepat dari biasanya. Karena aku canggung, kalau harus memulai percakapan dengan dia duluan.

Angin malam, entah kenapa malam ini dia lebih dingin daripada dirimu. Bahkan dinginnya sampai menusuk tulang. Aku bingung, bahkan tidak tau, mengapa dia mendadak menjadi pendiam kaku begini. Seolah sebagian besar masalahnya karena aku. Yang jelas, aku sudah pernah minta maaf.

Angin malam, bantu aku memecahkan setiap masalahnya. Agar aku dapat bercanda panjang, mencubiti perutnya, menendangi kakinya, menariki rambutnya, dan apapun itu yang sepertinya menyakitkan namun tidak se-menyakitkan cinta. Juga menikmati angin malam bersama hingga kami tertidur di kursi rotan dan aku berbantalan lengannya serta melingkarkan tangan ku di perutnya. Lalu jika waktu akan berpihak lagi, akan ku peluk dia sekali lagi -erat, susah lepas.



Jum'at, 30 September 2011 ; Sekarang hanya ada angin malam dan aku yang memeluk bayang mu erat.

Petrichor


"Bagaimana aromanya? Kamu suka?"

Tetap tidak saya temukan jawaban mu. Kamu masih menyalakan tv, menekan-nekan remote dari angka 1 hingga 9 hingga 0 lalu kembali lagi ke angka 1, terus. Padahal kali ini tv sedang semutan. Gambarnya naik turun. Suaranya serak. Antena mungkin sedang asyik mengobrol bersama petir. Maklum di luar sedang hujan deras. Bukannya ini yang kamu mau? Katanya kamu kangen hujan.

Justru malam ini kamu sedang engga-banget. Endapan kopi yang biasanya kamu tambah air panas lagi, malah kali ini sengaja kamu jadikan asbak untuk ke-empat putung rokok mu. Yang biasanya Jazz, jadi Alternative Rock. Bantal sofa sudah kemana-mana. Lampu sengaja tidak kamu nyalakan sejak penutup senja tadi. Kamu tanggalkan semua kebiasaan-kebiasaan kita.

Yang membuat saya semakin heran, mengapa suasana wajah mu juga ikut se-tidak-karuan ruangan ini?

Saya lepaskan perlahan remote tv dari tangan kiri mu. Saya mencoba menyelipkan ke-lima jari-jari tangan kanan saya ke celah-celah itu. Mungkin benar, celah tangan sengaja diciptakan oleh Tuhan untuk saling memenuhi dan dipenuhi satu sama lain. Lalu, saya coba genggam -erat. Kamu menonton acara tv, namun hanya kekosongan yang saya temukan di mata mu. Saya bersandar perlahan di bahu kiri mu. Saya mengumpulkan nyali untuk sekedar menatap mu dari sudut bawah. Kamu masih berbeda dari sebelumnya. Memang tidak ada bentuk perlawanan dari mu namun bahasa tubuhmu kaku!

Lalu saya coba tanya,
"Bagaimana tentang petrichor? Kamu suka?"

Masih tidak ada jawaban. Lalu perlahan saya seperti disadarkan bahwa saya terlalu memaksakan dunia saya kepada mu. Tentang angin, tentang gerimis, tentang hujan, tentang pelangi, tentang genangannya, tentang petrichor. Ya sudah, saya pergi saja.

Entah semenjak malam itu apakah kamu sudah menyadarinya atau belum. Kalau saya meninggalkan botol kaca seukuran tiga ruas jari di depan cermin dekat meja tv. Sengaja saya letakkan di sana, agar kamu yang setiap sebelum mandi bercermin dulu bisa melihatnya. Sebenarnya botol itu berisi petrichor. Saya kumpulkan dari teras belakang di saat hujan pertama kali musim ini. Kalau masalah aromanya....saya tidak mampu menuangkannya dalam kata-kata. Yang jelas, jangan kamu sia-siakan petrichor itu. Karena itu parfum terbaik, termahal, terawet, terlangka, dan terakhir yang saya hadiahkan untuk mu di hari '3-tahunan' mu dengan wanita itu.

"Sudah kamu coba? Bagaimana aromanya? Kamu suka?"




Sabtu, 25 Juni 2011, 22:28 ; Kalau saya suka sekali.

Senin, 03 Oktober 2011

Matahari Fajar


Alarm di handphone ku bunyi. Dengan lagu berjudul Kangen milik Chrisye lalu aku lihat hanya emoticon wanita jatuh cinta di layarnya. Oh bukannya itu alarm yang aku aktifkan semenjak Maret lalu. Waktu itu aku memang sedang se-jatuh-cinta-cinta-nya. Juga waktu itu setiap awal bulan, kamu minta aku bangun di saat fajar dan kita 'ketemuan'.

Fajar kali ini, dengan tali be-ha ungu ku yang masih lari kesana kemari, dengan celana futsal hitam-kuning, dengan kaos barong ungu oleh-oleh mu dari Bali yang mulai menyempit di bagian lengan, dengan rambut berantakan seperti rambutmu yang jarang tertata rapih, tanpa cuci muka atau gosok gigi, aku langsung ke tempat itu. Tempat yang dulu pernah kita sepakati untuk bertemu.

Tempat istimewa. Bukan bukit berbunga dengan pemandangan pantai luas yang dapat untuk menikmati matahari fajar secara bebas. Namun kita justru memilih bukit kersen -sejenis buah ceri. Bentuk pohon kersen yang tinggi dan cabangnya tumbuh kemana-mana. Matahari harus mencuri celah pepohonan untuk masuk. Di sana memang lembab, seringkali ada genangan air hujan sisa semalam. Jangankan bunga, lumutpun terpaksa tumbuh di sana. Eum apa ya? Aku suka saja, ya begitu.


Siapa bilang tidak romantis!
Justru di sana, kita dapat menghargai hal sekecil apapun yang diberikan Tuhan dengan cuma-cuma. Mencari matahari fajar dari sela-sela cabang pohon. Mengintip burung yang sedang menikmati buah kersen. Belajar banyak dari genangan hujan yang tersirat sebagai genangan kenangan. Duduk berdua melipat kaki tanpa alas apapun. Memejamkan mata. Mencari tempat yang tepat, agar sinar matahari fajar langsung menyilaukan mata. Sembari kita bercerita apa yang terjadi sebulan belakangan ini. Indah...

Ini pertama kalinya aku mencoba ke sana lagi, setelah beberapa lama kita sempat melepaskan segalanya yang dulu pernah terhubung. Siapa tau kau sudah ada di sana. Aku lari cepat. Lebar langkahku dua kali dari biasanya. Dan...hei itukah kamu? Dari jauh aku lihat kaos futsal hitam-kuning favorit mu yang terkena sedikit matahari yang semakin menyilaukan mata, tepat dimana tempat mu biasa menyilangkan kaki berdua dengan ku, dulu. Namun, ternyata kudekati, itu bukan kamu. Hanya kaos itu sengaja dibiarkan menggantung berdiri dengan sanggahan tongkat bambu. Di depannya, tepat dibagian dada kaos itu, yang biasanya sangat dekat dengan dada mu, kali ini kutemukan tulisan 'Selamat Tinggal' di amplop yang -jujur- sampai sekarang belum kuberanikan untuk membaca lebih dalam apa isinya.



Minggu, 2 Oktober 2011, 04:44 ; Mungkin aku telat sehari.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Nyeri


Semakin saya ceritakan, semakin tidak ada habisnya. Malam minggu ini, saya masih tetap di kamar bersama nyamuk-nyamuk yang sudah berpasang-pasangan. Mungkin memang Tuhan belum menghadiahkan untuk saya seseorang yang seharusnya menjemput untuk sekedar menghilangkan penat di saat-saat seperti ini. Saya juga masih dengan kaos ungu muda khas Bali oleh-oleh dari teman saya yang sekarang sudah robek di sisi lengan bagian kiri, dengan pasangan celana pendek futsal kuning-hitam dengan nomor 25, entah apa, saya nyaman saja menggunakannya. Apalagi saat kondisi seperti ini, saat hujan jarang menyapa. Ah kangen hujan.



Saya gigiti kuku, hingga kutek biru tua yang menutupinya perlahan pudar -tidak sengaja. Mengikat rambut setinggi mungkin agar udara sejuk teras belakang sedikit bisa membantu menyegarkan. Air mineral yang tertinggal di dalam tas putih blacu siang tadi langsung saya habiskan. Melipat lutut dan bersandar di kursi rotan. Rasanya lebih dari grogi. Teman, mungkin ini semacam nyeri. Karena nyeri ini semakin menjadi-jadi. Saat mendengar nama mu saja, nyerinya sudah mulai terasa. Lalu perlahan mata ini tidak lagi fokus pada apa yang saya lihat, seperti berbayang. Juga ribuan semut seolah mengkrikiti otak bagian dalam saya, kepala saya berdenyut kencang. Tangan bergetar sejadinya. Menghela nafas berkali-kali. Membanting pintu lalu lari ke teras belakang tanpa lampu -menangis.


Seandainya kau ada di sini, sudah saya siapkan kuncinya agar kau bisa masuk dan sekedar mengintip. Hati ini seperti ingin melangkah maju namun masa lalu menahannya, sementara saya tak punya pegangan satupun untuk kedepannya. Kupu-kupu di dalam dada juga mulai bingung. Sedangkan saya sendiri hanya bisa memainkan ibu jari kaku di petakan tanah teras belakang. Saya menatap ke bawah, karena bulan dan bintang di langit sedang menikmati dunia mereka sendiri. Hingga mata saya mengarah ke bawah dan melihat dua onggok angka, nyeri bertambah, saya memutuskan untuk melihat pemandangan kota saja. Benar Teman, ini nyeri. Juga sudah saya ceritakan kepada Ibu, namun beliau bilang, tak perlu meminum obat karena saya lebih butuh istirahat. Mungkin di satu sisi, istirahat yang cukup memang lebih efisien daripada obat. Di sisi lain, Ibu juga wanita, mungkin nyeri seperti ini bukan sembarang nyeri, Teman.
Hey, kemari. Kenakan pakaian futsal mu juga. Saya sudah cukup senang meski kau tak pernah memamerkannya di tengah lapangan.



Teras Belakang. Sabtu, 1 Oktober 2011, 21:06 ; Ternyata sang pembuat nyeri justru obatnya.

Jumat, 23 September 2011

Kehilangan


Saya buntu, teman. Saya butuh teman.

Saya takut banyak orang salah persepsi tentang saya, tentang blog ini, terutama juga tentang seseorang di sebrang sana yang sedikit banyak telah menginspirasi. Beberapa pasti tau bahwa saya sempat kehilangan. Bukannya saya lupa menaruh, namun saya hanya teledor menjaganya. Kau pikir sengaja? Tidak kok, serius, yang benar saja saya sengaja menghilangkan mu yang notabene adalah hal terpenting di hidup ini. Waktu itu saya sepenuhnya tidak sengaja dan sedikit tidak peka dengan keadaan.

Kehilangan…

Kehilangan waktu itu rasanya lebih dari patah hati. Patah hati kebanyakan remaja labil yang memilih menangis setelahnya. Atau patah hati khusus mereka, mungkin kami, orang-orang yang jatuh cinta diam-diam yang setelahnya berhenti mendoakan. Atau mungkin patah hati yang entah siapa bisa sukses menyembunyikan semuanya dengan tampilan kuat di luar.

Bukan itu semua, teman.

Sudah saya bilang, kehilangan waktu itu rasanya benar-benar lebih dari patah hati. Saya yang uring-uringan sampai tidak dapat menangis, mungkin air mata terlanjur membeku di dalam dada. Saya yang tidak hanya sekedar mendoakan, namun juga yang selalu menceritakan mu dengan tersenyum kepada Tuhan. Saya yang tetap konsisten dengan tetap mengabaikan dunia ketika mata kita bertemu, malu, pura-pura tidak sengaja. Juga semua yang saya simpan sendiri lalu membusuk.

Teman, kehilangan mu seperti kehilangan hati dan logika ku sekaligus. Logika ku ini perlahan menjadi se-berantakan tatanan rambut mu itu. Kalau hati, entah apa kabar, sudah di bakar menjadi api dan di larung ke tengah laut. Saya buntu, teman. Saya butuh teman.

Entah apa yang pantas untuk memulai sebuah percakapan kecil dengan mu lagi,saya rancu, saya bimbang, kita gengsi!

Hanya di suatu waktu, saya ingin kau meluangkan waktu untuk mengintip busuknya bunga-bunga di diri ini yang dulu selalu kau hujani. Lalu, kau sadar, dank au akan dating lagi, tanpa alasan untuk pergi lagi, membawa segalanya yang dulu sempat kau bawa hilang.

Dan saya juga akan sadar, akan memanggil mu…teman. Karena kita memang teman tanpa kemajuan dalam lain hubungan.

Selasa, 19 Juli 2011

Hambar



Saya suka berada di sebuah titik di mana saya tidak sedang jatuh cinta apalagi patah hati.

Ini titik paling hambar di hidup saya selama ini. Baru sekarang ini. Baru kali ini semenjak belakangan ini. Ini semua tentang perasaan saya baru-baru saja ini. Memang tidak mudah di jabarkan bagaimana rasanya. Mungkin ini yang namanya ‘hambar’. Ya, hambar. Seperti aroma air mineral yang saya hirup sebelum saya meminumnya setiap pagi. Seperti rasa makanan sehari-hari nenek saya yang jauh dari kata lezat. Seperti saat saya terpaku di bawah AC atau di depan kipas angina terlalu lama. Seperti berpanas-panasan mencari vitamin E saat upacara di lapangan bola sekolah saya. Seperti rasa kopi yang dimasak Bapak dengan garam.

Hambar di hati saya memang bukan itu semua, namun tidak jauh beda. Yang saya tau saat ini, saya sedang tidak jatuh cinta apalagi patah hati. Saya memang merasakan hambar, namun bahagia, dan tidak merasakan rasa hambar yang menyiksa. Padahal di hari-hari saya kini sudah benar-benar tidak ada hujan bunga. Padahal hati saya sudah tidak lagi merah jambu. Padahal kupu-kupu sudah malas menari di dalam dada. Padahal pagi hari terasa mendung. Padahal segalanya sudah tak senikmat ketika jatuh cinta dulu. Lalu saya juga tidak lagi uring-uringan, mencurahkan isi hati dengan cicak, menangis bawah bantal, iri dengan hujan yang tidak perhah sendiri. Tidak, saya sudah tidak seperti orang yang sedang patah hati, walaupun sakit namun, jujur, saya tertantang untuk melaluinya, ya seru begitu.

Justru kali ini saya tidak merasakan apa-apa. Tidak senang tidak sedih. Tidak terpuruk tidak melambung tinggi. Yang jelas, saya suka berada di titik ini. Saya seperti hujan yang bebas bermain kapan saja, dengan siapa saja, di mana saja, juga kapan saja, ketika Tuhan ketiduran. Hujan tidak perlu takut pulang terlambat atau sembunyi-sembunyi dari Tuhan mengambil deadline matahri untuk bermain.

Ah, yang saya bingungkan sekarang, bagaimana menjaga hati saya agar tetap di posisi ini sepanjang yang saya butuhkan. Karena saya tidak ingin terburu-buru patah hati ataupun terlambat jatuh cinta.

Senin, 13 Juni 2011

Hati Membanting Tulang


Kau pasti lebih tidak tau tentang aku dibandingkan cicak cicak itu. Tidak tau tentang ada apa di hari Rabu, tentang mengapa aku hanya fokus di satu warna kutek saja, tentang keinginan ku untuk lebaran, tentang usaha ku agar tidak lagi peka, kebersediaan menunggu, mencoret-coret sepuluh kuku ku seperti orang gila, tentang gengsi. Dan masih banyak lagi yang kau belum tau dan juga yang kamu belum berusaha untuk tau. Salah satunya, tentang hati ku. Itu lho hati ku yang merah jambu, yang sebagai dompet untuk menyimpan ribuan maaf walaupun setiap saatnya harus aku jadikan kado untuk mu yang tidak pernah kau sadari.

Hati ku itu wanita. Kemayu sekali. Dia sedang belajar pakai mascara dan eyeliner yang benar. Suka pakai blush-on warna oranye di sekitar tulang pipinya. Bibir segarnya justru ditutup lipstick coklat pucat. Apalagi eyeshadow-nya yang tidak kalah mencolok dari kutek-kuteknya. Ah dasar hati. Mungkin hati sedang mencari hobi sekaligus hiburan baru daripada penat melulu mengurusi hatinya hati. Hatiku jarang sekali piknik. Dia selalu bekerja, bekerja, dan bekerja.

Hatiku membanting tulang.

Tidak tau bekerja apa ataupun untuk siapa. Yang aku tau, dia sering memeras keringat, oh atau jangan-jangan hatiku mengeluarkan air mata. Hatiku itu mandiri, tidak pernah dipermasalahkan ketika dia sedang berdua atau sendiri. Dia juga tidak pernah berhenti ditengah jalan ketika harapan-harapannya berhenti ditengah jalan. Tersenyum ketika air mata memojokkannya. Menghidupkan hidup ditengah semangatnya yang harus mati. Bersabar ketika jarum jam memaksanya tergesa. Tidak memperdulikan pujaannya ketika sedang mengejar dunia dengan wanita lain. Hatiku tidak punya bekal apa-apa, karena ini hidup sesungguhnya, bukan piknik yang sudah direncanakan sedetail-detailnya. Hatiku hanya sedang membanting tulang untuk hatinya agar sekeras tulang.

Besok, suatu saat nanti aku juga akan bekerja keras membanting tulang seperti hatiku. Tidak peduli berdua atau sendiri, kalau bisa berdua. Aku akan merubah semuanya. Terutama hidupku yang hitam pekat agar tampak cerah seputih putih-tulang. Siapa tau ada seseorang yang mau membantuku mewarnai hidupku.

Reflek


Reflek, refleksi dari hidup yang terkadang menuntun mu diam diam memasuki sudut rahasia yang tak pernah pura pura.

Beberapa minggu yang lalu saya mendapat kurang lebih 4 sampai 5 pesan pendek dari pengirim yang berbeda. Isinya kurang lebih seperti ini:

" Pejamkan mata mu, sebutkan nama seseorang yang paling kamu sayang, sebut namanya perlahan, sambil berdoa kepada Tuhan; semoga dia juga mencintaiku dan malam ini aku diberi kesempatan memasuki mimpinya. (Kirim ke 13 orang teman mu dan tunggu keajaiban yang akan datang, jangan diremehkan) "

Bodoh! Sampai sekarang saya masih belum yakin jika saya benar-benar menyebarkannya ke 13 nomor yang ada di handphone saya. Masih belum yakin bahwa saya melakukan hal yang sebelumnya saya anggap 'freak'. Masih belum yakin saya percaya sekaligus takut dengan beberapa potong kata ancaman yang terdapat di akhir. Yang saya yakin, satu satunya yang saya paling yakin adalah tiba tiba saya memejamkan mata, lalu menyebut nama mu perlahan, dan berdoa sedikit dengan Tuhan, sama seperti anjuran pesan pendek itu; reflek.

Ya, saya reflek.

Reflek, refleksi dari hidup yang terkadang menuntun mu diam diam memasuki sudut rahasia yang tak pernah pura pura. Mungkin malam itu ketika saya membaca pesan pendek, reflek sedang duduk disamping saya, lalu sedang mood untuk menuntun saya ke sebuah tempat yang saya tidak tau apa ataupun dimana. Seingat saya, saya belum pernah mengunjungi tempat itu, khususnya sudut yang paling rahasia di tempat itu. Mungkin selama ini saya memang belum belum pernah se'reflek' ini. Saya belum pernah mengunjungi sudut paling rahasia di dalam hati saya. Karena belakangan dan sebelumnya juga saya selalu berpura-pura, terlalu gengsi, terlalu malu untuk mengenalkan air-air mata saya kepada dunia. Intinya agar saya tidak kecewa...lagi.

Diam-diam, reflek membantu saya untuk jujur. Kalau tidak reflek mana saya tau apa yang sebenarnya. Sayapun kalau tidak reflek juga tidak tau apakah benar benar ada yang spesial untukmu di dalam sudut paling rahasia. Namun sekarang saya sudah yakin. Tentang reflek yang tidak pernah pura pura. Semoga kamu juga banyak reflek untuk saya. Karena kalau tidak dibantu dengan reflek, kita berdua tidak akan berusaha mengerti yang sebenarnya. Atau mungkin memang hanya reflek yang mempunyai peta untuk menuju ke sebuah sudut paling rahasia.

Rahasia


Tuhan, kapan kita bisa ngobrol hangat berdua? Saat jarum jam Kau izinkan beristirahat sejenak untuk sekedar minum air es dan mengeringkan keringatnya sehingga memberikan waktu luang untuk kita. Ketika cicak, nyamuk, serangga kecil lainnya yang biasa bermain, bergosip, berjalan-jalan di kamar ku, bahkan debu sekalipun tak Kau izinkan hadir. Pokoknya cuma kita berdua bersama hujan yang mengendap untuk menguping obrolan kita dari balik jendela kayu kamarku, cahaya bulan yang memaksa masuk dari celah ventilasi, matahari dan bintang dengan cueknya berbagi kutek warna nude sambil mengangguk setuju. Aku tidak mengerti semua itu. Mungkin Kau mau datang siang hari, mungkin malam hari, mungkin berbagi senja denganku. Mungkin dimana siang dan malam akan menjadi satu. Yang jelas aku butuh kehadiran-Mu ke kamarku yang sudah aku kunci rapat agar Ibu dan Bapak pun tidak tau bahwa anak tunggalnya ini sedang rancu. Sambil menikmati teh celup dan martabak, aku ingin cerita banyak dengan Mu, Tuhan.

Cerita tentang masa lalu yang ada di pundak ku, yang selama ini membuatku kesulitan dan keberatan setiap kali lari dalam mata pelajaran olahraga. Cerita tentang keadaanku sekarang yang membebani otak dan hatiku sekaligus, sampai terkadang aku bingung, harus mendahulukan perasaan ataukah logika. Juga masa depan, yang berpegang erat pada pergelangan kaki ku, yang mendorongku untuk lari dan berfikir lebih cepat daripada ini, yang membuatku merasa terlalu ambisius.

Kau pasti lebih mengerti dari aku kan, Tuhan? Meskipun aku yang punya hidupku sendiri, tapi jujur, aku 'nol' dalam mengendalikannya, bahkan aku tidak mengerti harus bagaimana. Aku terlalu bodoh untuk sekedar memikirkan harus bernafas dengan lubang hidung kanan ku atau lubang hidung kiri ku. Bahkan untuk melangkah dengan kaki kanan atau kaki kiri duluan, aku masih bingung. Bimbing aku, Tuhan, agar aku tidak salah melangkah, agar tidak boros bernafas, agar bisa menyeimbangkan antara logika dan perasaanku.

Burulah kemari, Tuhan. Airmataku sudah di ekor mata, cerita panjangku sudah diujung bibir, bahkan ingusku sudah diujung lubang hidung, mereka yang sedang siap-siap untuk keluar bersamaan ketika nanti aku berbagi rahasia ku yang...begitulah. Tapi Tuhan harus janji, jangan bilang siapa-siapa, kalau soal hujan, cahaya bulan, bintang, matahari, mereka sudah aku ancam kalau kalau sampai berani membeberkan rahasiaku dengan Mu, nanti.

Oh Tuhan, Kau mengerti maksudku kan? Iya. Kemarilah, terserah Kau saja mau terjun bebas bersama hujan, atau menumpang burung sriti yang setiap senja berterbangan di atap rumahku, asal cepat sampai sini. Aku sudah lelah menunggu, make up baruku juga ikut luntur.

Uh lama sekali datangnya. Kira-kira Tuhan sedang apa ya? Coba aku intip saja, selagi hatiku bolong jadi mudah melihat rumah baru Tuhan yang aku buatkan di dalam hatiku. Oh iya, Tuhan kan juga punya urusan sendiri, punya rahasia-Nya sendiri. Sudah ah jangan terlalu merepotkan Tuhan.

Sabtu, 21 Mei 2011

Korban


Para korban, mari membuat diri menjadi lebih kuat daripada tersangka!

Saya korban. Bukan yang setiap siang bolong disiarkan di televisi, bukan yang hartanya hilang, bukan yang dilecehkan, bukan yang perlu dikasihani di meja hijau. Saya bukan mereka. Baiklah jika kami sama sama disebut korban. Mungkin mereka lebih sakit daripada saya. Namun yang namanya masalah itu relatif. Sah sah saja jika saya menyebutkan bahwa masalah saya yang paling berat, saya lebih menderita daripada mereka. Hey, ternyata saya juga lebih kuat daripada mereka yang membutuhkan pengacara, meja hijau, kepolisian, dan berbagai macam aparat penegak hukum lainnya. Karena saya bukan korban perampokan, bukan korban pelecehan seksual, bukan korban tabrak lari, bukan korban pembunuhan. Sepele, saya hanya korban cinta.

Korban cinta. Memang kedengarannya sepele dan hanya layak diperbincangkan oleh remaja labil seperti saya dan teman-teman dekat saya. Apakah sudah banyak yang tau bahwa para korban cinta, termasuk saya, secara tidak langsung merangkap menjadi korban-korban yang lain. Saya korban cinta; waktu milik saya dirampok, penjelasan saya dilecehkan, logika saya di tinggal lari, hati saya dibunuh. Bagaimana pun saya tidak butuh aparat penegak hukum untuk menyelesaikan masalah saya yang satu ini ataupun menuntut tersangka dengan berbagai ancaman dan umpatan.

Dasar tersangka! Tersangka cinta. Ha-ha. Kali ini justri terdengar ganjil. Tersangka cinta yang membuat para korban tidak karuan. Belum jelas apa motif mereka sampai tega begitu. Mencuri, membunuh, dan berbagai hal keji yang mereka lakukan sampai saat ini pun mereka belum menyadarinya. Mereka masih menikmati hidup diantara korban yang hampir mati, tertawa diatas air mata para korban, dan yang paling tragis adalah mereka memiliki kekasih baru di hadapan para korban yang senantiasa lajang menunggu para tersangka kembali mengulang keindahan yang sempat dilewati bersama. Kalau dibilang seperti ganjil, ya memang ganjil, seperti otak para tersangka cinta. Hidup tersangka cinta yang tidak pernah genap; waktu yang ganjil, hidup yang ganjil, bahkan hatinya pun ganjil, hanya satu.

Para korban cinta, mari membuat diri menjadi lebih kuat daripada tersangka! Kalau perlu kita balikkan keadaannya, kitalah yang menjadi tersangka atas para tersangka yang mulai jatuh menjadi korban. Tidak apa-apa jangan khawatir. Roda itu berputar, adakalanya kita dibawah terinjak, kini saatnya kita diatas menginjak. Pssssttt saranku, ketika kau benar-benar berada di titik teratas, rodanya coba kau kempeskan saja agar tidak dapat berputar, dan kau tidak akan mungkin untuk berputar dan berada diposisi terinjak lagi.

Mengutuk Suntuk


Belakangan ada perasaan aneh yang menggelayuti ku. Semacam malas, menye, ingin menangis, murung, ah pokoknya tidak bersahabat sekali mereka dengan ku. Membuat ku risih. Tidak semangat dan hasilnya seringkali tidak maksimal dalam mengerjakan sesuatu. Selalu saja mereka mengelilingi ku. Ada yang berpegang erat di tungkai kaki ku, menahan bahu ku, menyeret tangan ku, menarik rambut kucir kuda ku, menarik maju bibir ku, menarik turun kelopak mata ku, berbisik lantang di telingaku tentang sesuatu yang intinya hampir sama yaitu perasaan buruk yang ingin membawaku 'maju ke belakang'.

Mungkin ini yang namanya suntuk.

Pantas saja, belakangan aku butuh sesuatu yang dapat me-refresh otak dan hatiku. Kalau masalah me-refresh otak itu mudah saja. Cari game yang tidak terlalu banyak strategi dan yang penting cukup menghibur. Pergi ke suatu tempat yang memiliki hamparan luas dan hijau, udara sejuk, juga tidak terlalu bising dengan berbagai hal yang sering dijumpai di kota. Beristirahat sejenak dari rutinitas yang sering menuntut otak untuk bekerja keras membanting tulang. Kalau kau ingin tau banyak bagaimana cara me-refresh otak, cari saja di Google, disana lebih banyak jawaban sebagai alternatif pilihan. Lalu apa kabar dengan hati? Bagaimana cara me-refresh hati? Membuat hati segar, pulih, kuat, nyaman, tenang, dan banyak lagi hal yang menjadikan hati lebih siap dalam segalanya.

Mengutuk suntuk.

Remaja, dewasa, aku ingin mengenalkan hati ku kini adalah dukun. Jangan kaget jika gayanya seperti madam yang kemayu. Pakai eyeshadow dan blushon tebal, lipstick juga tidak ketinggalan, make-up berlebihan, eyeliner dan mascara yang hitam pekat seperti endapan kopi, kutek warna menyala, ala wanita bergaya gipsy. Apa lagi kalau bukan ingin menjadi dukun yang sukses. Hati ku ingin menjadi dukun untuk mengutuk suntuk. Agar suntuk tidak lagi-lagi datang. Agar suntuk tidak hanya bersembunyi yang sewaktu-waktu dapat datang kembali, namun suntuk benar benar musnah. Ah ternyata mengutuk suntuk tidak lebih mudah daripada mengutuk anak durhaka. Karena suntuk bukan seseorang yang memiliki perasaan, yang sewaktu-waktu dapat jenuh bahkan merasa tidak enak apabila merugikan orang lain, juga bukan seseorang yang rajin meminta maaf atas kesalahannya.

Mungkin satu-satunya cara mengutuk suntuk adalah dengan memperbaiki perasaan ku sendiri. Suntuk seperti lalat yang tidak beretika, ketika hati mu kau biarkan kotor maka suntuk akan datang, dari situlah hati mu harus selalu kau jaga kebersihannya, karena suntuk tidak akan mendapat tempat dihati yang bersih.

Ingatkan aku ya! Kalau hati ku benar-benar menjadi dukun yang sukses, aku ingin segera mengutuk suntuk agar musnah juga tidak lupa mengutuk mu agar tidak lagi membuat hati ku patah; pelet.

Kamis, 19 Mei 2011

Memasak Kopi




Ada saja yang membuat aku kangen dengan Bapak. Setiap kali aku menghirup asap rokok, setiap kali aku menjadi perokok pasif, setiap kali ada orang disebelahku menikmati kopi atau sekedar permen kopi, setiap kali aku melihat sarung hijau motif kotak-kotak yang mungkin lebih tua daripada aku, kaos kaki bola warna kuning, asbak besi, semuanya. Atau mungkin begadang yang menjadi kebiasaan ku selama ini karena tertular dari Bapak. Aku sarankan, jangan pernah mencari Bapak di kamarnya ketika waktu masih menunjukkan di bawah pukul 00.00, pasti kau tidak akan menemukan. Bapak biasa, oh bahkan mungkin selalu begadang. Sekedar menghilangkan penat, biasanya Bapak 'nongkrong' sambil melihat pemandangan atau memperhatikan mobil yang sesekali lewat di jalan raya dekat rumah. Sering aku berbicara dalam hati, ''Perhatikan dengan seksama, Bapak! Besok anakmu akan seperti mereka yang mengendarai mobil mewah malam-malam begini sendirian, pulang larut demi pekerjaan yang menuntutnya untuk sukses.'' . Ah benarkan, air mata ku menetes perlahan.

Mungkin aku akan sedikit kesal dengan wanita yang suka 'jijik' melihat pria merokok, rasanya benar-benar ingin menjadikan mulutnya sebagai asbak. Karena aku sendiri bukan tipe yang 'berlaga'. Bagaimana mungkin aku menjauhi dan merasa jijik kepada mereka yang notabene sebagai perokok aktif dan coffee addicted, sementara aku paham betul Bapak bagian dari mereka. Sampai aku hafal, jajaran gelas putih polos yang berisi endapan kopi dan sekaligus menjadi asbak rokok, itu pasti punya Bapak. Ada saja cara menikmati kopi ala Bapak.

Salah satunya yang sekarang membuat aku sampai kepincut dengan kopi adalah cara Bapak menyajikan kopi dengan cara dimasak. Memasak kopi? Ah serius? Kata Bapak biar tidak membuang waktu. Ketika air mendidih diatas kompor, langsung saja ditambah kopi, gula, dan hey juga garam. Sudah kopinya kental, gula pun tidak terasa, dan lagi kenapa harus garam? Sambil menuang kopi yang baru saja 'matang' ke dalam gelas putih polos favoritnya, Bapak juga bilang, katanya detail garam hanya untuk menyeimbangkan agar kopi tidak terlalu pekat juga agar penyakit gula tidak cepat menyerang tubuh, ya semacam mentralisir.

Bapak benar. Untuk menghidupkan hidup ada banyak cara terutama membuat bagaimana orang lain tertarik dengan hidup kita dan berusaha memasukinya untuk mengambil secuil pelajaran dari dalamnya. Mungkin garam di kopi tadi seperti cinta di dalam hidup, menyeimbangkan kebahagiaan dan menetralisir kesedihan. Dan belajarlah dari ilmu endapan kopi, tidak pernah protes ketika situasi dan kondisi memojokkannya untuk dibuang setelah dimanfaatkan.

Bapak aku yakin setiap detail hidupmu mengandung banyak pelajaran hidup untuk ku. Tunggu ya Bapak, sebentar lagi kau tidak akan memasak kopi sendiri. Akan aku carikan seseorang untuk menemanimu memasak kopi dan sekaligus bersedia menemaniku di hari-hari ku.

Senin, 16 Mei 2011

Peka


Rabu siang sepulang sekolah kemarin saya benar-benar menangis (lagi lagi hari Rabu). Setelah membanting pintu dan melempar sepatu serta kaos kaki, saya langsung peluk Ibu. Seharian saya benar-benar diam ketika saya merasakan sakit hati yang sangat. Saya terisak hebat saat itu. Hanya mau berada di bahu Ibu, titik. Sambil menangis saya mencoba menjelaskan. Ibu tersenyum. Saya yakin bukan maksud Ibu mengejek, mungkin Ibu tau apa yang saya rasakan, mungkin Ibu juga sempat sakit hati begini beberapa kali sewaktu muda dulu, mungkin Ibu sudah kebal, mungkin juga lewat senyumnya Ibu ingin bilang 'buat apa menangis?'. Saya tidak tau pasti. Yang pasti saya merasa nyaman ketika harus bersama Ibu.

Bapak, beda jauh dengan cara mendidik Ibu yang lemah lembut dan sering membuat saya mengira-ngira apa maksud nasihat Ibu yang tersirat. Bapak lebih to the point dan keras. Dan saya yakin, keduanya sama-sama memberi perhatian yang lebih untuk saya. Mungkin beberapa ada yang ngeri melihat Bapak, brewok dan kumis tebal, berkulit hitam, kepala hampir botak, selalu telanjang dada dan memakai celana pendek, juga sandal kulit coklat kenang-kenangan dari almarhum bapaknya Bapak. Saya pun juga seringkali takut. Ketika Bapak memberi nasihat, justru saya mengganggapnya marah. Bagaimana lagi, ekspresinya yang kuat dan suaranya yang lantang. Namun disitu, iya bagian itu ketika Bapak menyampaikannya secara tersurat. Membuat saya tidak harus mencerna lebih lama seperti nasihat tersirat dari Ibu. Malamnya setelah saya murung dari seharian, Bapak bilang banyak tentang pelajaran hidup, tentang yang saya alami sekarang belum apa-apa, Bapak pernah merasakan sakit daripada ini, pengalaman Bapak yang kerabatnya ada dimana-mana, ada yang bisa dipercaya ada juga yang tidak, ada yang tidak bosan mendukung ada juga yang diam diam membuat Bapak jatuh. Salah satunya yang paling saya ingat, Bapak bilang:

''Jadi orang jangan terlalu peka!''

Awalnya dalam hati saya mengelak. Ah Bapak ini bagaimana, saya kan manusia, apalagi saya wanita, sedikit-sedikit saya pasti pakai perasaan. Saya harus peka dengan keadaan sekeliling. Saya tidak boleh cuek. Tapi tiba-tiba saya sadar, untuk apa peka kalau hanya menyakiti dirisendiri. Saya setuju. Saya mau mengikuti saran Bapak. Mau pura-pura tidak mendengar apapun. Mau cuek intinya. Mungkin disini saya akan mengerti tentang 'silent is gold'. Ya, saya akan terus mencoba semuanya. Mencoba agar saya tidak lagi peka, tidak perlu pakai perasaan, sedikit-sedikit jangan dipikirkan dan jangan dimasukkan ke dalam hati. Seperti yang selalu Bapak ingatkan untuk saya, ketika saya mencium punggung tangannya yang masih tercium aroma rokok semalam sebelum saya turun dari mobil dan bersiap menyambut hari-hari saya.

Ah terimakasih sekali Bapak. Kau dapat membuat hidup anak tunggalmu ini bewarna lagi sekalipun kulitmu yang monoton hitam. Ups hehe. Love.