Tampilkan postingan dengan label Surat Kaleng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Kaleng. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juni 2011

Surat Kaleng #16 untuk Absen 16


Ingatkan aku, ini bagian terakhir tentang mu. Jika nanti aku akan menulis tentang mu lagi, cegah aku sesegera mungkin.

Ternyata nomor absen mu itu 16. Aku pikir 15, atau yang lain. Dan entah jodoh atau apa, kali ini benar-benar tepat sekali aku menulis Surat Kaleng #16 untuk Absen 16. Tau tidak, aku sebenarnya sudah merencanakan menulis hal ini sejak lama namun aku tidak juga diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengetahui satu hal tentang mu yang belum aku tau; nomor absen mu. Mungkin agar aku tidak gegabah dalam memutuskan sesuatu. Agar semuanya tepat dan aku tidak lagi perlu untuk berlebihan dalam satu atau lain hal. Mungkin juga Tuhan memberiku jeda untuk berpikir apakah aku harus tetap menjaga hatiku untuk mu atau menyudahi dengan tulisan terakhirku untuk mu ini.

Robin, buka jendela mu lebar lebar. Ambil lalu baca surat ini yang baru saja diantar burung hantu yang sedang kesepian.

Januari, Februari, Maret. Satu, dua, ya tiga bulan aku kepincut berat dengan mu. Cari tau semua informasi tentang mu. Memenuhi tags 'Ketika Jatuh Cinta' di blog ku dengan semua harapan-harapan ku yang aku biarkan tumbuh dengan sehat dipundakmu. Menunggu mu untuk sekedar lewat di hadapan ku dan tersenyum. Salah tingkah seperti kecoa yang pertama kali merasakan closet mewah. Maunya senyum dan ketawa ketawa kecil sendiri. Terkadang merasa dewasa yang sudah siap dengan segalanya, terkadang merasa ini semua hanya cinta monyet rabies yang kalau monyet rabies itu cepat mati maka semua perasaan yang ada juga ikut cepat mati.

April, Mei, Juni. Satu, dua, ya tiga bulan sudah rasaku terlalu biasa dengan mu. Hapus nomor handphone mu. Unfollow akun twitter mu. Tidak lagi menunggu mu lewat sambil tersenyum. Membuang semua informasi tentangmu yang susah payah aku cari. Menghentikan untuk memenuhi tags 'Ketika Jatuh Cinta' di blog ku karena aku memang sudah tidak lagi jatuh cinta. Robin, aku galau, aku rancu, aku tersesat di labirin yang aku buat sendiri. Dulu ada kamu yang aku jadikan bekal di masa depan, yang aku masukkan ke saku baju ku setiap saat. Tapi sekarang, sudah tidak lagi. Jangan tanyakan aku masih cinta atau tidak, tolong jangan tanyakan itu. Aku tidak berani jatuh cinta dengan mu. Aku takut di adu domba dengan cinta.

Ya, tiga bulan sudah aku sanggup menjalani semuanya serba sendiri, tanpa bekal, tanpa motivasi, tanpa inspirasi, tanpa segalanya yang dulu itu adalah kamu, Robin. Bantu aku bagaimana mengisi kesepian ini agar aku tampak ramai. Seperti burung hantu yang kesepian, ia merebut secara paksa pekerjaan merpati yang senantiasa mengantarkan surat. Tapi kali ini, burung hantu angkat tangan, tidak sanggup mengantarkan surat kaleng ini ke bulan untuk Robin si pawang hujan.

Eh Robin, selain nomor absen mu, 16 juga urutan inisial ku di alfabet. Lagi-lagi aku tidak tau ini jodoh atau apa.

Senin, 30 Mei 2011

Surat Kaleng #15 untuk Kamar Mandi



Awalnya aku sempat bingung harus menulis apa di Surat Kaleng #15 ini. Yang awalnya aku pikir angka 15 adalah nomor absen Robin, ternyata bukan. Padahal aku ingin menulis tentang Robin untuk yang terakhir kalinya disini. Lalu apa aku juga lagi-lagi harus menulis tentang dia yang inisial nama panggilannya berada di urutan ke 15 dari alfabet? Tidak. Tidak perlu. Aku sudah punya komitmen dengan Tuhan sejak aku menulis Surat Kaleng sebelum ini yaitu Surat Kaleng #14. Mana mungkin aku melanggar komitmen ku sendiri. Aku sudah terlanjur banyak malu terhadap Tuhan. Jadi kali ini aku putuskan untuk membuat Surat Kaleng #15 untuk Kamar Mandi. Ya kamar mandi baru ku yang dibuat sejak kurang lebih 15 tahun yang lalu. Dan sengaja aku menulis kali ini pukul 15:15 di Minggu sore.


'Kamar mandi, apa kabar?'

...


Itu yang selalu aku tanyakan kepada mu setiap kali aku membutuhkan mu, dan kau mungkin lebih tau alasannya bahwa diam adalah jawaban yang selalu kau teriakkan lantang untukku. Jujur, kamar mandi, aku hanya ingin tau bagaimana kabar mu. Apakah kau juga akan sebahagia aku ketika kabar ku sedang baik? Yang jelas aku harap kau tidak akan lebih kalut daripada aku ketika kabar ku sedang buruk. Aku hanya takut jika kau tidak seceria biasanya; bercanda dengan air di bak mandi besar, ikut bergosip dengan kecoa brengsek, menjaga cicak cicak agar tetap di ventilasi mu agar mudah ku ambil untuk ku pelihara, menemaniku menikmati petrichor buatan dari air yang aku percikkan ke dinding batu bata, atau bahkan jangan-jangan selama ini shampo, conditioner, sabun, pasta gigi, juga lulur scrub ku cepat habis gara-gara kamu yang hampir setiap hari jatuh cinta. Ha-ha. Ngomong-ngomong terimakasih ya sudah menghilangkan kantuk ku setiap pagi, menyegarkan ku di siang bolong sepulang sekolah, menyemangati ku di sore hari untuk tetap belajar lebih awal, dan menjadi tempat curhat ku di malam gelap saat semuanya sudah terlelap, saat aku pura-pura ijin untuk buang air, saat aku tidak lagi butuh bantal hanya butuh tubuh lebar mu untuk mendekapku, saat aku ingin teriak sekencangnya di dalam bak mandi berisi air penuh, saat aku tidak kuat untuk menyambut keseharian ku dan hanya sanggup untuk 'nongkrong' di WC aroma lavender, saat mata ku yang merah mengharuskan ku untuk mencuci muka, juga saat kau rela tidur terlambat untuk menunggu keputusan ku apakah harus meneruskan untuk jatuh cinta dengan dia sambil mencabuti bulu-bulu halus sikat gigi bekas.


Tetaplah seperti ini, menjadi kamar mandi yang pernah, sedang, juga yang akan aku anggap selalu baru dari 15 tahun yang lalu, kemarin, sekarang, besok, lusa, dan sampai suatu saat nanti akan aku kenalkan kau dengan suami dan anakku.

Senin, 16 Mei 2011

Surat Kaleng #14 untuk Yang Merasa


Ini surat kaleng #14 untuk mu yang merasa inisial namanya diurutan ke 14 dari alfabet. Saya tidak akan menye-menye lagi. Hanya ingin sedikit menyampaikan kepadamu:

Doakan saya semoga ini terakhir kalinya saya menulis dengan dirimu sebagai inspirasinya.


Terimakasih,

Salam

Sabtu, 14 Mei 2011

Surat Kaleng #13 untuk B!


B! Selamat siang bolong ya. Hihi

Ini surat kaleng ke-13 untuk mu, B!. Banyak yang mengira angka 13 adalah angka sial, angka setan, atau angka buruk lainnya. Namun tidak tau kenapa ada saja yang membuatku kepincut dengan angka 13. Mungkin karena 13 adalah bilangan prima yang tidak bisa dibagi, begitu juga aku harap cinta kita dari dulu hingga sekarang seperti angka 13 yang tidak terbagi. Mungkin karena setiap pukul 13.00 ada FTV favoritku. Mungkin karena tanggal lahir kita jika dijumlahkan hasilnya adalah 13. Mungkin karena jumlah digit namamu ada 13. Atau jangan jangan karena 1 dan 3, jika digabung akan membentuk huruf B, yah huruf B inisial dari nama mu.

Sedikit banyak aku pernah menceritakan awal kita bertemu di postingan ku yang berjudul 'Cinta Pertama' dan 'Cara Pedekate' serta 'By You'. Kalau tidak salah siang bolong pukul 13.00 sepulang sekolah dulu adalah waktu dimana kita sering kali berkencan, biasanya di hari Sabtu, dimana sekolah kita yang berbeda sama-sama pulang lebih awal daripada hari-hari efektif lainnya. Jalan kaki kesana kemari untuk sebuah warung makan tenda yang tidak terlalu menguras kantong anak SMP. B! aku kangen sekali dengan masa masa itu. Kita bahagia sekali rasanya. Karena waktu itu kita adalah tipe orang yang cukup pandai bersyukur juga belum berbekal image yang musti dijaga. B! berkali-kali aku jatuh cinta dan sempat dua kali menjalin hubungan dengan pria lain setelah selesai dengan mu, tapi kamu tau hasilnya apa? Nihil. Karena tidak ada yang benar-benar seperti kamu. Memang aku ya seperti ini, kalau sudah suka dengan sesuatu, enggan untuk berganti tipe.

Untukku, kamu itu tipe yang berhasil buat aku memendam kangen hampir 4 tahun. Sukses sekali kamu, B!. Jujur, masih terbayang kuku kuku tangan mu yang sesekali kamu gigiti. Kalau menulis, kamu masih dengan huruf latin yang besar-besar. Jerawatmu yang terkadang memerah sampai tidak terlihat karena kulitmu yang terlalu hitam. Sepatu, tas, tempat pensil, jaket, semuanya hitam. Rambut tipismu, kepala petakmu. Aku kangen, rindu, mau lagi melihat semuanya yang ada di kamu setiap hari seperti sepasang anak SMP yang takut berdosa membohongi tulusnya cinta pertama; kita; aku dan kamu, B!.

Mungkin surat kaleng ini cukup membantu ku untuk menyampaikan banyak tentang mu. Dari bahagianya dulu, bagaimana rindu yang menggebu sekarang, sampai gengsi yang rajin sandaran di bahu kita masing-masing sambil berbisik agar kita terus diam begini. B! aku ingin coba menyapa, atau minimal sekedar senyum tapi ya itu, aku gengsi. Mungkin lebih tepatnya aku takut kalau kamu tidak meresponnya. Aku malu kalau matahari terik akan tau bahwa aku masih butuh kamu, kalau hujan akan tau bahwa aku rindu kamu, kalau malam akan tau bahwa aku lebih dari sekedar kepincut dengan mu.

Sudah ya, aku tidak tau harus mengetik apa lagi. Ideku habis. Aku hanya ingin menangis. Meringkuk di kasur. Menghabiskan waktu dikamar. Mencoret-coret kisi-kisi jendela dengan spidol warna ungu tentang perasaan ku. Menunggu hujan. Melakukan apa saja yang tidak terlalu berguna. Yang jelas-jelas tidak bisa membuat perubahan ke arah yang lebih baik untuk kita, B!

Terimakasih ya B! karena kamu pernah, sedang, dan akan terus membuat ku memendam rindu yang menggebu setiap kali aku melihat angka 13.

Sabtu, 30 April 2011

Surat Kaleng #12 untuk Kakak


Kakak, asal kau saja, berkali tuts backspace dan delete saya tekan. Karena saya benar-benar bingung. Saya tidak tau harus menulis apa tentang mu. Saya juga harus bolak-balik kamar mandi, menyapa cicak di malam panjang ini, jajaran gelas kopi yang tinggal bekasnya, teras belakang, bangku rotan, playlist di laptop, 414 teman saya si pesan pendek, hampir semuanya, sedikit demi sedikit memberi saya ide. Tapi apa Kakak? Lagi lagi tuts laptop saya kurang bersahabat. Jari-jari tangan saya terlalu kaku untuk menari di depan hidup mu yang cukup tertata rapih. Ini tengah malam, Kakak. Biasanya saya takut untuk sekedar duduk menaikkan kedua kaki di celah pagar teras belakang. Anehnya tidak tau kenapa, malam jelang pagi kali ini saya berani.

Mungkin karena ada cinta yang warnanya merah jambu jadi membuat suasana sedikit lebih terang.

Cukup tau, saya terlalu ngaco kalau sampai berbicara tentang jatuh cinta dengan mu. Ya ibarat saya tidak tidur namun dapat bermimpi. Karena untuk dapat masuk daftar kekasih mu, saya bukan lagi terlambat, tapi memang pendaftarannya sudah di tutup rapat, benar-benar tidak ada tiket masuk, bahkan 'calo' pun malas untuk menawarkan tiket tiket palsu. Kakak, sekiranya saya tidak pantas jatuh cinta dengan mu. Mana mungkin kau mau berkirim pesan pendek dengan saya yang nantinya akan saya simpan di tabungan spesial. Lalu berbasa basi menanyakan 'Udah makan?' 'Udah mandi?' 'Lagi apa?' Jelas tidak mungkin. Sedikit banyak saya sudah paham sifat mu, Kak. Dari bahasa tubuhmu, kau bukan tipe orang yang suka berbasa basi.

Lagi pula kita berdua sangat bertolak belakang. Saya yang malas mandi, Kakak yang sering berbesih diri. Saya akui, saya memang belum sedewasa mantan pacar Kakak yang menikah dengan Kakak sekarang.

Yah mau bagaimana lagi, lagi-lagi saya terlambat. Saya lahirnya terlambat. Sering saya berbisik di dalam hati agar waktu berputar kembali dan saya dilahirkan 29 tahun yang lalu tepat tanggal 30 Mei agar kita dapat merayakan hari bersejarah itu bersama, bisa bertukar kado, kau memberi saya camilan dan tenang saja saya akan memberi Kakak banyak rokok Malboro. Hihi. Lalu mungkin kita dapat bekerjasama membuat segala sesuatu di hidup kita membaik, ya dengan cara saling melengkapi. Ya cukup berbisik di dalam hati saja, takutnya kalau nanti saya berteriak, si Mutiara Hitam teman sebangku saya akan mendengarnya. Saya kan malu. Ah tapi sudahlah, Kakak. Saya takut bermimpi dalam keadaan terjaga.

Lebih baik, Kakak bantu saya berdoa dengan Tuhan. Walaupun kita beda keyakinan, percayalah, Tuhan kita satu dan saya harap hati kita dapat bersatu -ups. Doakan saya ya Kakak, agar saya mendapat pasangan hidup seperti Kakak. Bertanggung jawab, jujur, sopan, segalanya. Kalau masalah kekar dan tampan seperti Kakak, anggap saja bonus dari Tuhan. Karena buat saya yang terpenting adalah kepribadiannya.

Maaf ya Kak kalau saya sedikit ngelantur ceritanya. Anggap saja ini satu-satunya hiburan anak putih-abu yang belum siap menerima jam ke-0. Dan surat kaleng ini biar tetap menunggu disini, biar Kakak paling tidak ada alasan untuk pulang ke Indonesia dari berlayar panjang mu ke Amerika dan Eropa itu, yah untuk sekedar membuka laptop dan membaca ini bersama dengan si 'Mutiara Hitamku'.

Jangan lupa doakan saya ya Kakak.

Kakak kekar dari timur yang kini bekerja di barat, ajarkan banyak kepada saya tentang Bahasa Inggris juga tentang kerasnya hidup yang lebih keras daripada enam kotak di perut mu itu!

Take care, my other half.

Surat Kaleng #11 untuk Sepatu Converse


Selamat senja, wahai pria pemaaf nan bertanggungjawab bersepatu converse, apa kabar?

Wah sepatu converse, aku ingin memiliki mu. Kamu yang sekarang ada di kolong tempat tidur ku sudah lusuh sekali. Maaf ya, aku suka ceroboh dalam mengenakan mu. Lumpur, batu tajam, rumput, genangan hujan, sampah, kotoran, apapun itu, aku sering tidak sengaja menyuguhkan mu dengan hal-hal seperti itu. Pantas kamu suka ngambek. Suka bersembunyi jika aku cari. Suka bercanda garing padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Suka malas kering jika ku cuci. Jahitan mu suka lepas. Sepertinya kamu memang malas untuk ku kenakan.

Sepatu converse hitam milik ku, begini ya, mau tidak aku carikan pacar untukmu? Yah, pacar! Agar kamu dapat sedikit terhibur daripada ngambek melulu dengan ku. Aku sudah punya sepasang sepatu converse lain untuk menjadi pacarmu. Dia itu warnanya ada merah, ada hitam, ada putihnya juga walaupun sedikit, paling tidak dia bisa membuat hidup mu yang awalnya monoton hitam, bisa sedikit berwarna. Kamu itu kan perkat, sedangkan dia itu bertali, cocok sekali deh rasanya, bisa saling melengkapi, kamu bisa merekatkan kebahagiaanmu untuknya dengan perkatmu dan sebaliknya dia juga bisa mengikat dirimu dengan cintanya melalui tali itu. Walaupun ukuran mu sedikit lebar dan panjang daripada dia, tapi menurutku tidak masalah, kalau sudah cinta fisik pun akan kalah.

Sepatu converse hitam ku, nanti kalau sudah jadian beri tau aku ya. Soalnya aku mau meminta tolong kepadamu. Begini, ketika nanti kamu berkencan dirumah pacarmu, tolong mengendap-endaplah lalu mengintip apa yang biasa di lakukan pemilik pacarmu selepas senja, juga ketika hujan, ketika petrichor memaksa masuk ke kamarnya, ketika pemiliknya lapar dan butuh sekali jamur tepung buatan saya. Kalaupun perlu, saya mau titip salam untuknya. Salam maaf lebih tepatnya. Bilangkan kepada pacarmu juga, kalau saya ingin berpacaran dengan pemiliknya. Hey, nanti kan kita bisa double-date. Sepatu converse dengan sepatu converse dan pemiliknya dengan pemiliknya. Iya kan? Jangan lupa ya sepatu converse!

Selasa, 12 April 2011

Surat Kaleng #10 untuk Tahi Semut


Halo pemilik tahi-semut -bukan tahi-lalat- di ujung bibir. Bagaimana kabar mu sekarang?

Sudah lama ya aku jarang membicarakan mu disini. Bahkan aku nyaris lupa untuk merindukan mu. Beberapa minggu lalu aku terlalu fokus pada sebuah kekalutan, pada sebuah perasaan bersalah yang menghantui ku, pada sebuah kesalahan yang aku buat dan aku sendiripun tidak tau letak salah ku dimana. Pada saat menulis ini pun, otakku terpecah, tidak seperti biasanya aku yang selalu fokus padamu, sekarang ada kamu ada dia juga. Dia yang membuat aku kalut belakangan ini.

Sudahlah abaikan saja rasa kalutku itu.

Ngomong-ngomong ini surat kaleng ke 10 untuk mu wahai pemilik tahi-semut. Aku harap kamu dapat menjadi angka satu untuk diriku yang hanya angka nol tidak berarti ini, maka suatu saat kita dapat bersatu dan membuat angka yang sempurna, satu dan nol, sepuluh.

Sebenarnya untuk pemilik tahi-semut, aku hanya bilang sedikit saja bahwa mulai besok aku akan mencoba untuk merindukan mu seperti dulu lagi agar perasaan kalut yang menghantuiku hilang secara perlahan. Sebenarnya juga surat ini bukan untuk pemilik tahi-semut namun untuk tahi-semut itu sendiri.

Hai tahi-semut kurang baik apa coba aku ini, kamu yang awalnya tahi-lalat kini aku sebut tahi-semut. Yah mau bagaimana lagi, pemilikmu terlalu manis kalau hanya untuk menjadi jamban lalat.

Enak tidak berada di ujung hidungnya? Kamu pasti sering ya menikmati deru nafasnya. Pantas saja dia tidak pernah luput berbicara tentang kamu, kamu kan ada di dekat ujung bibirnya. Pasti empuk sekali ada di pipi chubby nya. Kamu juga hampir dekat dengan telinganya, tidak heran kamu hafal sekali daftar lagu-lagu favoritnya yang sering kali menggema ketika dia memasukkan headset tepat di kedua telinganya. Eh sebentar lagi dia punya kumis, ah pasti tahi-semut itu semakin gembira, bisa diselimuti kumisnya setiap waktu.

Tahi-semut, enak tidak sih rasanya di perhatikan? Lalu di jaga agar kamu tidak pecah, di perhatikan agar kamu tidak sakit, di rawat agar kamu ada untuk dia seumur hidupnya, diterima apa adanya walaupun bentuk tahi-semut bulat gemuk hitamm, dia ikut merasakan perih ketika kamu juga perih. Ceritakan kepadaku, enak tidak sih? Pasti enak kan ya, tahi-semut.

Aku cemburu. Tau tidak, aku cemburu.

Aku juga ingin ada disana. Aku janji tidak akan sepasif tahi semut. Aku akan bernyanyi bersama dengannya untuk sebuah daftar lagu favoritnya yang tidak aku mengerti sama sekali alirannya, lewat bibirnya yang bergerak perlahan aku akan mendengarkan cerita hidupnya, aku akan membantu mengumpulkan oksigen untuk aku salurkan masuk ke dalam hidungnya, aku rela menjadi office-girl mungkin cleaning service yang membawa tissu bahkan lap untuk sesegera mungkin mengeringkan airmata yang meleleh di pipinya, lewat kumisnya aku akan titip salam untuk pemilik tahi-semut. Itupun kalau aku benar-benar bisa menjadi tahi-semut yang dia jaga setengah mati.

Ah tapi sudahlah. Aku memang tidak bisa menjadi tahi-semut di ujung bibir mu yang selalu kamu manjakan. Namun aku akan segera berkunjung kesana, ke ujung bibirmu, ketika panas maka aku akan meleleh dan menetes di bibirmu lalu ketika dingin aku akan membeku disana, tepat di atas bibirmu. Memang bukan sebagai tahi-semut, namun sebagai gula-gula yang membuat hidupmu semakin manis. Walaupun resikonya aku harus mau merasakan manis yang semakin linu membuat pilu.


Surat Kaleng #9 untuk Frau


Hai, Frau. Bagaimana kabar mu? Apakah masih memproduksi mesin penenun hujan? Oh iya, mesih penenun hujan mu yang lalu aku pinjam sudah ku kembalikan kan? Aku hanya ingin memastikan bahwa tidak rusak setelah aku pinjam. Frau, kamu sudah pulang dari luar angkasa belum? Bagaimana bercinta disana? Seru ya? Wah aku jadi ingin mencoba. Frau, apa kamu juga sempat merasakan marahan seperti rat and cat? Seperti tom and jerry begitu? Kamu marahan dengan siapa sih? Dengan sahabat mu ya? Sudahlah Frau lebih baik kamu mulai untuk glow semacam bersinar begitu atau juga bisa menjadi seolah-olah kuat dengan menyebut dirimu 'I'm a sir' daripada terus-terusan menyalahkan dirimu sendiri tentang masalah mu dan sahabatmu sampai kalian marahan seperti ini hingga sekarang.

Ngomong-ngomong tentang Frau, aku jadi ingat siang itu pertama kalinya aku kepincut tentang sesuatu yang ada pada Frau. Aku harus meminta tolong dengan dia untuk mencarikan album Starlit Carousel milik Frau yang memang cukup sulit mencarinya. Waktu itu aku sedang di luar kota, dan sepertinya cuma dia yang mau menolong ku tentang hal itu. Sorenya aku jingkrakkan gembira karena dia mengabari ku lewat pesan pendek bahwa sudah medapatkan album itu untukku, waktu itu aku benar-benar tidak sabar menunggu hari esok untuk bertemu dengannya, untuk sesegera mungkin mendapatkan album itu ditangan ku.

Wah, Frau, aku jadi iri dengan mu. Kalau tidak salah siang itu hujan. Ceritakan sedikit dengan ku, bagaimana rasanya di genggam erat oleh tangannya? Bagaimana rasanya dipinjami jaket agar kamu tidak kehujanan? Bagaimana rasanya membonceng dia? Apakah kamu juga memeluk perut buncitnya ketika dia ngebut? Waktu itu kamu di lindungi dibalik jaketnya atau dimasukkan ke dalam tas nya sih? Lalu bagaimana rasanya dijaga baik-baik malamnya? Aku tau pasti kamu sedih ketika dia ada untuk mu terakhir kali, waktu dia harus menyerahkan mu untukku di pagi itu. Itu terakhir kalinya dia menggenggam mu kan, Frau?

Frau, kita kebalikan ya. Waktu itu, ketika kamu sedih karena dia melepas mu justru aku sedang puncak-puncaknya berbahagia dalam hari-hariku bersamanya. Indah sekali waktu waktu itu, aku tidak akan banyak cerita disini karena mungkin sedikit banyak kamu sudah tau. Bukannya aku malas mengetik, aku hanya malas mengingat-ingatnya kembali. Nah sekarang ketika perasaan mu mulai membaik dan bisa beradaptasi setelah dulu dia sempat melepasmu, justru aku yang sekarang tidak karuan begini perasaannya.

Frau, kita memang kebalikan. Namun aku yakin kita tidak jauh beda karena kita sama-sama wanita. Aku doakan dari sini, untuk Frau yang di Jogja, tempat dia pujaan hatiku biasa melepas penat, semoga Frau cepat-cepat mengeluarkan album baru lagi agar aku dapat meminta tolong dia untuk mencarikan album itu untukku. Dan aku janji, aku tidak akan cemburu kalaupun album itu harus dia simpan, dia jaga, harus dia peluk erat.

Buat apa juga cemburu, bukannya dia seperti itu agar albumnya Frau tidak rusak? Iya kan? Dan aku bangga, dia sosok laki-laki remaja yang sangat bertanggung jawab.

Sabtu, 19 Maret 2011

Surat Kaleng #8 untuk Vid-Havid

Ini surat kaleng yang ke-8. Belakangan ini saya suka angka 8. Karena saya sedang kepincut dengan seseorang yang berinisial tepat diurutan ke-8 dari alfabet. H! Iya, huruf H. Saya suka girang sendiri kalau secara sengaja ataupun tidak melihat jam tepat pukul 08:08. Tetapi yang saya bicarakan diatas tadi bukan H untuk Havid. Tidak kok, saya tidak sedang jatuh cinta kepada Havid. Saya jatuh cinta dengan H yang lain.

Oh iya jadi namanya Havid Dwi Pradipta. Kami bertemu di pertengahan 2010 lalu. Saya punya panggilan istimewa untuknya; Vid-Havid. Ucapkanlah itu dengan cepat. Saya biasa memanggilnya seperti itu, diawali dari setiap pagi sampai siang kadang kalau dapat bonus sms dari operator saya biasa melanjutkannya sampai malam. Iya untuk sekedar menyapa; Vid-Havid. Kalaupun dia tidak membalas sapaan dari saya itu bukan suatu hal yang luar biasa bagi saya. Karena Havid memang jarang menggubris saya, eum maksudnya, jarang menggubris tentang sapaan dari saya tadi.

Saya kagum dengan Havid.

Semoga siapapun termasuk seseorang yang sedang naksir Havid tidak salah persepsi ketika membaca ini. Saya hanya kagum, sudah itu saja. Saya kagum dengan segala sesuatu yang ada padanya, bukan dengan Havidnya. Mengerti? Baiklah jadi begini maksud saya, kalaupun ada seseorang yang memiliki segala sesuatu seperti Havid, dari sifat, kepribadian, sampai jiwa ke-bapak-an nya, saya pun juga akan kagum, mungkin juga kepincut kepadanya. Jadi tidak terpaku kepada Havid saja, namun terhadap segala sesuatu yang terdapat padanya.

Kepribadiannya dari A-Z yang kalau dirinci tidak akan ada buruknya. Saya tidak sedang gombal, tidak sedang mengelu-elukan, saya juga bukan tipe orang yang hiperbola. Havid memang seperti itu. Saya nyaman ketika harus melihatnya dari arah belakang saja. Ataupun ketika Ruthana, teman sebangku saya, harus berteriak kalau pagi ini Havid terlalu tinggi sampai menutupi teman-teman dibelakangnya yang ingin melihat papan tulis, tanpa banyak kata dia hanya menoleh saja lalu sedikit merendahkan posisi duduknya. Ini dia! Tidak banyak bicara seperti yang lain dan bertindak tangkas. Bayangkan saja, air wudhu pun merasa nyaman sampai sampai enggan untuk enyah tergesa dari ujung rambutnya yang menantang langit, mukanya selalu segar, kata orang bercandaannya garing namun disana justru saya dapat tertawa renyah.

Saya dan dia ada sedikit persamaan -bukan fisikli- yaitu tentang masa depan. Sering saya lihat matanya selalu berair ketika berbicara tentang masa depan, tidak jauh beda dengan saya. Berbicara sedikit tentang BAPEPAM, tentang AKUNTAN, tentang EKONOM, tentang apapun yang kami cita-citakan, tentang sesuatu yang dibicarakan lantang di depan kelas. PeDe ya? Kami memang seperti itu. Bukannya sombong, kami hanya optimis saja kok. Biasanya kalau ada guru yang mendoakan yang paling baik untuk kami semua, saya menjawab 'Amin' dengan suara cukup lantang. Namun Havid justru tidak mengeluarkan suara, dan saya yakin, dia mengucapkan 'Amin' dengan cara yang berbeda, cukup dalam hati saja, karena Havid tipe orang yang cenderung tenang.

Havid kalau melakukan apa-apa tidak pernah berfikir dua kali, itu kurang, dia akan berfikir lebih dari seribu kali tentang akibat baik buruknya nanti. Sederhana, mandiri, ah banyak pokoknya. Tidak akan habis kalau saya jabarkan.

Havid, besok kalau kamu sudah jadi BAPEPAM dan saya sudah jadi AKUNTAN (AMIN) kita reunian yuk, lalu bercerita kepada dunia, cerita dengan sedikit gombalan dan sedikit pamer, mengenang tentang motivasi yang membuat saya mungkin kamu juga menjadi kuat begini, tentang bercandaan garing, dan tidak lupa kita akan bercerita tentang sepenggal cerita yang sengaja tidak saya tulis disini, karena itu rahasia kita. Iyakan Vid-Havid?

Sudah dulu ya, Havid. Saya mau meneruskan tugas Akuntansi dulu.

Salam hangat,

Akuntan


Kamis, 17 Maret 2011

Surat Kaleng #7 untuk Jarum Jam


Jarum jam, apa kamu tidak capek lari-lari di lingkaran kaca sempit begitu? Aku saja yang hanya melihat sudah capek kok. Jangan kaget ya jarum jam, aku memang sering memperhatikan kamu. Kalau kamu sedang berlari lucu sekali, pantat kamu goyang ke kanan-kiri hihi. Aku biasanya duduk diujung ranjang sambil melihat mu yang ngos-ngosan begitu.

Kalau boleh, disurat ini aku sarankan kepadamu, jangan terlalu perfeksionis!

Aku paham betul kalau semua orang butuh waktu, terutama untuk proses menyembuhkan sakit dari masa lalu. Tetapi tidak dengan aku, waktu yang berjalan hanya membuat semuanya semakin berat saja. Dengan berjalannya waktu semuanya bisa berubah-ubah, moodku naik turun, jatuh cinta patah hati jatuh cinta patah hati begitu melulu, kadang kadang semangat seringnya menangis. Coba waktu itu aku patahkan saja kamu, jarum jam. Aku patahkan agar kamu tidak bisa lari cepat-cepat lagi, biar waktu berhenti disana ketika aku dan dia memang sedang bahagia. Kalaupun memang begitu aku dan dia akan bahagia terus, tidak seperti sekarang ini, kami justru marahan seiring berjalannya waktu.

Puas kamu, jarum jam? Katanya seiring kamu berlari luka akan sembuh, justru luka mulai hobi bertadangan kepadaku. Lalu kamu mau bertanggung jawab? Kamu mau keluar dari jam, mau pakai rok mini, mau berdandan, mau tampil sexy terus naik taxi kerumahnya untuk sekedar meminta maaf dan memperbaiki hubungan ku dengannya? Iya begitu? Bukannya membaik di aku, justru jarum jam akan dipacarinya. Aku cukup tau kalau tipe wanita yang dia idam-idamkan seperti model begitu. Itu yang paling aku benci dari dia, menilai segalanya hanya dari fisik.

Ah jarum jam kalau kamu memang tidak bisa bertanggung jawab untuk memperbaiki hubungan ku dengannya, awas saja ya! Akan aku ganti jam di dinding kamarku menjadi jam digital yang jelas jelas tidak punya jarum jam.

Minggu, 13 Maret 2011

Surat Kaleng #6 untuk Pagi


Selamat pagi, Pagi.

Tidak perlu aku tanyakan kabarmu, karena sedikit banyak aku tau bagaimana keadaan mu sekarang.

Dari selentingan, Matahari diculik dari Pagi ya? Sebenarnya diculik yang lain atau memang matahari sudah tidak mau dengan mu lagi, Pagi? Jangan bilang matahari mau berpindah haluan, matahari ada di malam hari. Ah tidak bisa tidak boleh, Tuhan kan sudah menciptakan segalanya berpasang-pasangan sejak awal.

Katanya matahari tidak lagi hangat, matahari membuat pagi kepanasan. Pagi sering keringatan, sering ada yang menetes dari atas sana, itu keringat atau hujan atau jangan-jangan air mata? Wah kalau airmata berarti kita sama dong, Pagi. Aku juga lagi suka menangis.
Kita menangis untuk hal yang sama.


Kehilangan.


Pagi, kau kehilangan matahari mu dan aku juga kehilangan matahari ku. Ha-Ha lucu ya. Sekarang suasananya mendung terus. Aku sudah tidak sesemangat dulu lagi, bawannya ingin marah-marah terus. Pagi, kapan-kapan kita protes yuk. Kita bawa spanduk besar, tulisannya 'Kembalikan Matahari Ku'. Nanti kita teriak sekencang-kencangnya pakai speaker mushola, sepertinya kalau kita pinjam sebentar tidak masalah asal kita ada izin saja dengan pengurusnya. Kita bisa bakar ban bekas ditengah jalan, bisa bawa batu untuk lempar sana lempar sini, bisa melalukan apa saja untuk protes, semacam demo begitulah. Tapi Pagi, jangan sampai kita meniru mereka yang sampai menjahit mulutnya segala, itukan sakit, aku hanya tidak ingin lebih sakit. Eum bodoh sekali! Kita kan belum tau harus protes dengan siapa? Harus dengan Tuhan? Kalau setiap sakit hati harus lari ke Tuhan, kasihan kan Tuhan juga butuh waktu untuk mengobati luka hatinya sendiri. Lalu ke gedung DPR? Ke pabrik? Ke perusahaan? Ah nanti mereka kira kita karyawan yang ingin bonus semata. Kita hanya butuh cinta kan, Pagi.



Namun, ini masalah perasaan.
Perasaan tidak bisa dipaksakan.
Kalau dipaksakan nanti berantakan.
Ah berantakan sekalipun tidak ada yang memperdulikan.

Lalu, apa rencanamu selanjutnya, Pagi, untuk merebut matahari mu kembali? Kamu mau diam saja, mau jalan ditempat, mau saja dilompati siang, mau terus-terusan mendung, mau membuat teh celupku lekas dingin, mau tetap melaksanakan semua rencana pasif mu itu? Kamu yakin?

Kalau boleh menyela, rencana ku sih tidak jauh beda dengan mu, Pagi. Aku mau pasif saja. Kan tadi aku sudah bilang, Tuhan menciptakan semuanya berpasang-pasangan sejak awal. Jadi kalau memang jodoh tidak akan kemana kok. Siapa tau Pagi bisa mendapatkan mataharinya kembali, dan aku bisa mendapatkannya kembali.

Yasudah kalau begitu rencana protes bersamanya gagal saja. Lebih baik sekarang kita berdoa bersama agar Tuhan mau menjodohkan kita dengan matahari impian kita masing-masing, amin.

Sudah dulu ya, sampai bertemu untuk menangis bersama di pagi berikutnya, Pagi.



Surat Kaleng #5 untuk Kamu

Surat ini spesial untuk kamu. Tidak seperti yang lain yang suratnya aku tulis pakai bolpen sedapatnya, khusus untukmu aku tulis surat ini pakai pensil warna ungu. Karena aku suka pensil. Pensil itu unik, dia rela diserut dan menjadi pendek demi pemilik hatinya, lagipula aku ingin kamu menjadi seorang pemaaf dan bisa menghapus masalah sebesar apapun, seperti pensil yang dapat dihapus.

Di dalam surat ini aku tidak akan banyak berandai-andai yang jauh kedepan seperti biasanya, ataupun terlalu hanyut dengan masa lalu.

Aku hanya ingin cukup-cukup saja. Cukup tau banyak tentang kamu saja, cukup mengerti dunia mu saja, cukup melihat senyum mu setiap hari saja. Aku juga mau kamu mengerti aku dan dunia ku.

Surat spesial ini untuk kamu yang entah siapa, yang entah jauh atau dekat, yang entah masa lalu ku atau memang diciptakan untuk masa depanku, yang entah mengapa aku ingin sekali bertemu dengan mu secepatnya. Dan untuk kamu, kalau kita dipertemukan suatu hari nanti, tolong ingat-ingatlah aku itu pengagum mu.

Kalau boleh tau, alamat rumah mu dimana? Kasihan Pak Pos yang kelabakan mencarinya. Atau tidak usah aku kirim saja ya. Biar surat ini aku simpan, kalau aku sudah bertemu dengan mu, surat ini akan menjadi saksinya

.

Minggu, 20 Februari 2011

Surat Kaleng #4 untuk Guru Olahraga


Halo guru ataupun mantan guru olahraga saya. Kabar saya baik sekali nih. Semoga kabar kalian juga.

Sebenarnya, ini salah satu keinginan saya, yaitu untuk mengirim sepucuk surat untuk kalian.

Terimakasih sekali ya untuk semuanya. Sudah mau membimbing saya semenjak saya TK, SD, SMP, hingga SMA. Guru olahraga itu guru favorit saya. Jangan berfikir saya suka pelajaran olahraga. Oh bukan, bukan itu, justru saya benci sekali dengan pelajaran olahraga, dan lebih sialnya saya selalu tidak bisa menguasai materi olahraga, padahal saya sudah berusaha sekuat mungkin.

Ah saya jadi ingat, pada setiap hari-hari yang ada mata pelajaran olahraga hati saya menjadi tidak karuan. Untuk bangun dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5.40 saja saya sudah malas, apalagi mandi, apalagi berseragam olahraga, apalagi sampai di sekolah.

Tetapi saya masih bisa bertahan sampai sekarang ini karena ada kalian, guru olahraga. Kalian mengajarkan saya tentang berbagai macam hal. Maaf saja kalau saya tetap belum bisa. Kalian mau bersabar membimbing saya, terkadang kalian mau memberi saya nilai lebih padahal ya saya seperti ini saja.

Guru olahraga, kalau besok saya jadi 'orang', dalam pidato, saya mau mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya untuk kalian. Agar seluruh dunia tau, orang-orang yang diciptakan seperti saya ini juga tidak akan sia-sia, Tuhan punya rencana.

Oh iya, yang terakhir, kalau besok waktu pelajaran olahraga saya tidak bisa tolong tetap berikan nilai yang cukup untuk saya ya, agar saya bisa berhasil menjadi 'orang' di kedepannya. Amin.

Surat Kaleng #3 untuk Hujan


Hujan, asal kamu tau saja, kamu itu bagian ketiga terpenting dalam hidupku.

Kamu itu semuanya buat aku. Sahabatku. Pacarku. Bahagiaku. Keluargaku. Pokoknya semuanya. Aku sayang sekali dengan mu. Kalau bisa, tolong jangan tinggalkan aku.

Hujan, aku masih butuh angin kencang dan mendung yang membuat mu ada, aku masih butuh gerimis yang menggandeng mu datang, aku masih butuh petrichor sebagai tanda kamu hadir, aku masih butuh petir yang membuat kamu sekuat ini, aku masih butuh pelangi jalan kamu pulang. Aku masih butuh hujan untuk membuat genangan tempat aku main air, untuk membuat konser musikal dari hentakkan kaki-kaki mu, agar aku tidak lagi sepi bawa semua teman mu kemari.

Jangan pergi ya Hujan, tetap di sini, dalam kemarau sekalipun, tetaplah bertamu di rumahku. Dalam keadaan apapun tetaplah di sampingku, waktu aku bahagia, sedih, sakit hati, jatuh cinta, apapun itu, berbagilah dunia bersama ku.

Surat ini sengaja aku kirimkan untukmu agar kamu cepat-cepat datang kesini. Kalau kamu tidak tau aku, aku itu sedang memakai kaos abu-abu dan celana pendek putih, pakai sandal karet, rambutku berantakan, pipiku kebanjiran air mata. Hujan cepatlah kesini, aku butuh bahumu, aku baru saja jatuh cinta dan sekarang sedang patah hati, tapi aku ingin jatuh cinta lagi.

Surat Kaleng #2 untuk Bapak dan Ibu


Selamat Senja Bapak dan Ibu ku tercinta.

Bagaimana kabar kalian di rumah tua yang juga membantu membesarkan saya itu? Semoga baik-baik saja, seperti anak mu ini yang lagi mencari dunianya sendiri.

Saya tau, Bapak dan Ibu suka sekali dengan senja. Kalau tidak salah, kata Bapak dulu, karena kalau sudah senja Bapak akan pulang dari kerja dan berkumpul bersama keluarga. Kalau kata Ibu, Ibu suka senja karena Bapak pulangnya senja dan dapat bercengkrama dengan hangat bersama.

Bapak tau tidak, saya diam-diam ngefans sama Bapak semenjak saya beranjak remaja dan mengerti sosok laki-laki sesungguhnya. Bapak, doakan saya ya, semoga di sini saya bisa menemukan sosok laki-laki seperti Bapak, yang tanggung jawab, tidak banyak bicara, humoris, mudah bergaul, mau mempelajari sesuatu yang baru, tidak kenal lelah, pantang menyerah, berusaha membahagiakan keluarga, yang paling penting Bapak bisa menjanjikan kepada Ibu bahwa Ibu tidak perlu ragu karena Bapak dan cintanya masih tetap bersama Ibu besok pagi, siang, sore, malam, bertemu pagi lagi, begitu seterusnya.

Oh iya Ibu, kalau saya sudah dapat laki-laki yang saya dambakan, doakan ya semoga kami dapat melanjutkan semuanya kearah yang lebih serius. Secepatnya, saya akan mengunjungi Ibu, saya ingin diajari sesuatu dari Ibu. Ajarkan saya tentang kesabaran, kekuatan, menyembunyikan air mata, membuat senyum palsu, juga cara memasak, bagaimana melipat selimut, apa yang harus dilakukan ketika suami pulang dari kerja, bagaimana cara mempertahankan keindahan ini sampai tua.

Saya tau, waktu membaca surat ini, Bapak dan Ibu akan senyum-senyum sendiri. Ah tidak menyangka sekali kalau saya sekarang sudah cukup dewasa untuk mengerti semuanya. Nanti kalau bisa, waktu saya pulang akan saya bawakan oleh-oleh. Oleh-olehnya entah siapa saya juga belum tau, pokoknya dia itu calon menantu Bapak dan Ibu, dia itu calon suami dari putri tunggal mu ini.

Semoga Bapak dan Ibu merestui.

Surat Kaleng #1 untuk Tuhan di Rumah Baru-Nya


Di surat ini, saya mau cerita sedikit ya Tuhan.

Dulu, saya hampir tidak percaya kalau Tuhan membuat semuanya menjadi lancar begini. Dulu, saya pikir, saya begini sebatas karena usaha saya yang mati-matian, tanpa campur tangan dari Tuhan. Dulu juga, saya belum terlalu mengerti tentang perasaan Tuhan.

Sekarang, saya mulai tau. Tuhan berarti sekali. Tuhan ada di setiap detik waktu saya, di setiap deru nafas saya, di setiap tetes air mata saya, di setiap inci hidup saya. Saya juga tau, Tuhan bisa sakit hati, apalagi kalau sampai ditinggal pergi umat-Nya yang Ia kasihi.

Kemarin entah kapan saya lupa, Tuhan lari-larian bawa koper besar, dalamnya saya juga tidak tau, Tuhan kelihatan terburu-buru sekali, kata sikembar Munkar-Nakir, Tuhan mau pindah rumah ya?

Tuhan tidak kerasan lagi di surga. Tuhan bosan juga tidur di masjid ataupun gereja. Sekarang Tuhan punya rumah baru, rumah baru-Nya di sini, di dalam hati.

Sekarang, sudah tidak perlu jauh-jauh dan berteriak-teriak lagi kalau mau tanya sesuatu kepada Tuhan, ketuk saja pintu hatimu, tanyakan kepada hatimu sendiri, jangan takut salah, Tuhan akan senantiasa membimbing seseorang yang mau membuatkan Tuhan rumah di hatinya. Jangan takut ataupun cemas juga. Tenang saja, Tuhan akan menjaga hatimu sebagaimana Ia menjaga rumah-Nya dulu dengan penuh cinta dan keajaiban.