Tampilkan postingan dengan label Tabu Secuil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tabu Secuil. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Februari 2011

Hamil

Sayang, saya lagi kepingin hamil nih. Tapi saya takut untuk punya anak. Bukan masalah proses melahirkannya, tapi proses bagaimana anak kita nanti tumbuh.

Saya ingin kau berbicara 'Halo selamat pagi, bagaimana di dalam sana, hangat kan? Hari ini mau ayah buatkan sarapan apa?' Iya berbicara seperti itu setiap hari sebangun tidur sambil mengusap-usap perut saya yang masih bermalas-malasan di atas kasur.

Kau ingin anak laki-laki atau perempuan?


Laki-laki saja ya. Kalau bisa anak tunggal laki-laki.

Saya tidak bisa membayangkan kalau anak kita besok perempuan. Pasti tidak selucu anak laki-laki. Sekarang saja sudah terbukti anak laki-laki lebih humoris daripada anak perempuan. Anak perempuan itu susah sekali di didiknya, terlalu sensitif, suka menyembunyikan rahasia, tidak mau berbagi, kalau di nasihati pasti di dalam hatinya mengomel sendiri, kalau sudah marah pasti akan mengunci pintu dan tidak mau makan, susah untuk diajak berdiskusi, sedikit-sedikit menangis, suka membesar-besarkan masalah. Dan ingatlah, anak perempuan itu manja.

Kalau anak laki-laki kan asik, bisa sebagai anak bisa juga sebagai teman. Tetapi.... Tidak. Tidak. Anak laki-laki kalau sudah main susah pulangnya, kalau di nasihati langsung menyangkal, sifatnya keras, A ya A, B ya B, terus kalau disuruh belajar suka malas, apalagi hobinya waktu beranjak remaja yaitu menonton bokep. Anak laki-laki juga sekalinya dilarang justru seperti disuruh dan dia akan melakukan beberapa hal yang kita anggap negatif dengan cara sembunyi-sembunyi. Karena mudah sekali bergaul juga mudah sekali hanyut dalam dunia barunya. Saya tidak mau.

Aduh sayang, saya takut punya anak. Saya belum siap, saya belum sesabar ibu saya, belum sekuat ayah saya.

Saya hanya takut kalau saya gagal mendidik anak kita besok-besoknya. Padahal saya ingin anak kita besok lebih bahagia dari orang tuanya dan semoga juga mendapatkan seseorang yang juga mencintainya, seperti kita mencintainya, seperti saya mencintaimu.

Apapun siapapun anak kita besok, saya mau kita berdua mendidik dan membuat dia tumbuh sempurna setiap harinya. Saya juga mau kau mengucapkan kalimat-kalimat baru agar anak kita di dalam perut saya ini menjadi anak yang pantang menyerah, tidak hanya setiap pagi, tetapi juga setiap siang, sore, malam, setiap saat.

Saya hanya lagi kepingin hamil dan hamil dan hamil nih. Saya juga hanya lagi kepingin membuat membuat dan membuat anak nih.

Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Bulan


*Terimakasih Frau untuk inspirasi lagunya

Asik sepertinya kalau kita ke bulan saja.

Aku sudah pernah jelaskan, kita akan terbang ke bulan dengan berpegang erat di tungkai kaki hujan, sampai di bulan pasti sudah malam, tidak apa-apa biar lebih romantis. Berlian sudah merajut dirinya sendiri untuk menjadi jas mu dan gaun ku. Nanti jamuannya keju yang langsung di cuil dari bulan dan madu yang di peras dari bulan madu. Tidak perlu pakai alas kaki, di bulan pasir putihnya halus sekali kok. Tidak perlu dandan juga, pasti nanti akan luntur, bulan kan rumahnya hujan.

Kalau sudah siap semua, kita akan menikah di bulan. Kita duduk berdua di ayunan rotan. Hujan akan jadi penghulunya. Kata hujan, mas kawin untukku darimu itu parfume yang tidak dijual dimana-mana, cuma kamu yang bisa buat dengan bantuan hujan, rumput, dan tanah. Robin, terimakasih ya untuk Petrichor-nya, ini parfume terharum yang pernah aku punya. Oh iya sebentar lagi kamu harus bersalaman dengan hujan si Bapak Penghulu. Dan biarkan Tuhan jadi saksi pernikahan kita. Sebentar lagi Tuhan bilang 'sah'.

Kita akan berpesta di bulan. Cukup banyak tamu yang datang, batu, pasir, debu, angin, biar mereka menikmati keju dan madu dulu. Kita juga masih duduk di ayunan ini, berayun ke depan, ke belakang, sambil berbasah-basahan karena hujan memanggil temannya yang datang keroyokan.

Sebentar lagi kita akan, ehem, kita akan melewati malam pertama. Kita akan bercumbu, hingga bercinta di bulan. Tidak perlu malu, toh tidak ada yang melihat. Daripada bercinta di bumi, sudah tidak nikmat lagi. Lebih nikmat di bulan. Kalau di bulan sepi, ya memang ini resikonya.

Lho Robin, apa kamu belum tau? Kita itu kan sepasang kekasih yang pertama bercinta di bulan.

By You


Kemarin beberapa teman lama saya berkumpul. Berkumpul di rumah saya untuk sekedar mengobrol sambil melepas kangen.

Sudah menjadi kebiasaan dari dulu, sudah tidak ada yang canggung lagi kalau harus berebut makanan di rumah saya, justru saya suka yang seperti itu daripada harus malu-malu tapi mau.

Dari awal kedatangan teman-teman lama saya, saya justru terfokus kepada satu orang. Namanya Tama (bukan nama asli). Tama yang sekarang sudah berubah jauh daripada yang dulu.

Seingat saya, Tama dulu itu walaupun hitam tetapi manis, tinggi, suka renang, baik, cerdas, rambutnya bergelombang lucu sekali, kukunya selalu habis dia gigiti sendiri, kemana-mana selalu membawa jaket oranye yang kedodoran, orangnya mudah bergaul, dia juga humoris, suka membuat bercandaan yang sedikit membantu untuk menghilangkan penat.

Justru dari semua itulah, benih-benih cinta saya dulu sempat muncul. Bagaimana tidak, kami sudah bersama dari TK. Dia juga menjadi sahabat dan sempat berpacaran dengan saya. Sekali lagi saya tegaskan, itu dulu!

Tama yang sekarang beda sekali.

Lebih tepatnya, kemarin, ketika kami semua berkumpul bersama, Tama hanya duduk dipojok, tidak seriang dulu lagi. Dia hanya memakan camilan yang berulang kali saya sengaja sodorkan untuknya. Tama hanya mengetik sesuatu di handphone N70 nya, saya tidak tau lebih tepatnya dia sedang apa. Serius. Beda sekali. Serius. Saya kangen Tama yang dulu.

Di tengah bercandaan ada teman saya yang bertanya tentang siapa pacar kami masing-masing. Terpaksa, saya menjawab tidak punya. Padahal yang lain sudah berpasangan semua :( Yang mengherankan, Tama menjawab ''Seng jelas, bocahku lanang!'' (Yang jelas, pacarku itu laki-laki)

What? Tama homo? Tidak. Tidak mungkin. Secara fisik, Tama tidak jauh beda dari yang dulu, masih manis. Hanya saja sifatnya yang berubah, anggap saja itu proses pendewasaan.

Tidak mungkin kalau dia serius menjawab seperti itu.

Tapi, itu pertama kalinya saya melihat wajah Tama serius sekali, tidak seperti biasanya Tama yang berwajah humoris.

Oh Tuhan, buat saya yakin kalau semua ini hanya bohong. Kalau Tama masih menyimpan hobi lamanya untuk bercanda, ya semoga Tama hanya bercanda.

Karena, jujur, sedikit banyak saya masih berharap untuk balikan dengan dia. Karena dia cinta dan pacar pertama saya. Saya tidak bisa lupa.

Yang jelas, semoga kamu tidak benar-benar homo. Atau mungkin, homo adalah jalan terbaik daripada saya harus melihatmu bersanding dengan wanita lain.

Kamis, 03 Februari 2011

Cintakutanpaspasi


Tidak tau kenapa tombol spasi pasti dibuat paling panjang di keyboard PC, laptop, netbook, bahkan di handphone ku juga. Tidak tau supaya apa. Mungkin biar mereka mudah. Mudah untuk membuat jarak. Itu mereka. Mereka bukan aku.

Aku benci sekali dengan jarak. Kalau bisa aku ingin Tuhan mempersempit dunia ini. Tidak harus ada jarak sekalipun kita sedang duduk bersebrangan. Jarak hanya akan memisahkan bukan? Kalau dipisahkan sudah pasti sakit.

Jujur, aku ingin hanya deru nafas saja yang membatasi kita. Dari pagi hingga bertemu pagi. Selama itu kita tidak akan membuat jarak.
Jangan pikirkan kerja dulu hari ini. Pikirkan bagaimana kita meminimalkan jarak. Agar dari hati ke hati, bibir ke bibir, tubuh ke tubuh, tanpa jarak. Tidak berlaku jarak untuk kita.

Sebenarnya aku sedikit bingung ketika kamu bertanya
''Hari ini cinta mu seperti apa?''
Kamu selalu menanyakan hal seperti itu. Ketika pagi buta sekali. Ketika beha dan tank top ku berebut mencari tempatnya diintip fajar pagi. Ketika kopi butuh air panas agar tidak kedinginan lagi. Ketika selimut kita bosan melihat tingkah kita beberapa malam ini.

Aku bingung. Serius. Demi apapun aku bingung.

Aku jawab sekenanya saja.
''Hari ini cintaku seperti mawar yang tanpa duri''
''Hari ini cinta ku seperti keju di bulan''
''Hari ini cinta ku seperti hujan di kemarau''
''Hari ini cinta ku lebih awal terbitnya''
''Hari ini cinta ku malas pecah untuk di ceplok''
''Hari ini cinta ku berbuah ungu''

Sekarang, aku sudah merencanakan jawaban untuk besok pagi. Kalau kalau kamu tanya lagi. Aku janji. Setelah kita puas malam ini. Jawaban ku seperti ini
''Hari ini cintakutanpaspasi''

Sayangnya kamu sudah pergi. Sejak pagi buta tadi. Kata kopi, kamu pakai kaos dan boxer hello kitty. Kan itu belum di cuci. Apa tidak risih bekas air mani? Dilanjut kata matahari, kamu ditampari pacarmu sendiri. Hey, lanjut besok malam lagi :)

Rumah Sendiri


Jadi kepingin punya rumah sendiri.
Kepingin tidur sendiri dalam rumah sederhana ku sendiri. Hasil keringatku sendiri. Kepingin buka buku-buku resep lalu mempraktikannya di dapur. Kepingin bersih-bersih dari sudut bersambung ke sudut lain. Menyikat kamar mandi. Membersihkan meja makan sambil menyapa cicak yang mencuri nasi, ah aku suka sekali dengan cicak, tidak terlalu banyak berfikir, kalau sekiranya buruk ditinggal lari saja. Lalu ke ruang keluarga merapikan tumpukan buku yang tidak pernah aku baca. Bisa menata ruang tamu dengan gaya ku sendiri, tidak harus formal.

Dan kamar, kamar yang aku tiduri sendiri yang suatu saat akan ada kamu yang juga meniduri kamar ku hanya berdua dengan aku yang sedang kamu tiduri.

Aku juga mau nanti punya teras belakang. Tidak perlu lebar-lebar, asal hujan bisa mampir sebentar. Mau punya kolam renang bulat, kalau matahari kepanasan biar bisa berendam sejenak. Mau beli banyak lilin, kasihan bintang tenaganya hampir habis untuk terus bersinar. Mau punya balkon, kalau bulan terlalu capek membawa tubuhnya yang bulat itu bisa mampir dan meletakkan pantat pipihnya di sana sambil makan keju.

Kalau ada yang tanya nanti mau beli apa saja. Aku jawab aku mau beli semuanya. Sofa, tempat tidur, kursi goyang, lampu taman, semuanya lah. Kecuali jam.

Tidak bercita-cita aku punya jam. Jam apapun itu. Paling aku hanya butuh handphone ku untuk melihat jam sekilas.

Kalau ada jam, semuanya akan tau ini sudah jam berapa. Berani taruhan kamu pasti tidak akan betah bertamu di rumah ku dan ingin cepat-cepat pulang, takut kalau pacarmu berkencan duluan bersama jam.
Kalau ada jam matahari dan bulan tidak di anggap, hanya fokus kepada a.m dan p.m.

Jam bullshit!
Hey! Jam juga sering lupa waktu. Terlalu mencampuri urusan orang lain. Suka berlari mengejar apapun. Seolah perfeksionis. Jam sering juga telat apel ke rumah pacarnya, jam sering tidur larut malam dan bangun kesiangan. Kalau sudah begitu jam bingung harus bertolak ukur dengan apa. Jam sudah tidak bisa dipercaya. Ya sudah matahari dan bulan saja, aku sarankan.

Kan kalau tidak ada jam, tidak ada yang perlu di ukur. Siapapun akan berlama-lama bertamu dirumah ku.
Kamu pun juga begitu. Akan berlama-lama bertamu di kamar ungu ku.
Tutup gordennya rapat. Tidak ada yang tau kalau sudah pagi. Pacarmu mengamuk. Kamu beberapa malam tidak pulang. Ternyata kamu masih melanjutkan tidur di sini.
Jadi sudah berapa ronde, Sayang?

Selasa, 01 Februari 2011

#Pelajaranhujan #7 Mempelai Hujan


Hujan sudah berdandan. Jasnya di langit hitam pekat. Berlian yang di pasang sebagai broche di sakunya berkilat sana-sani. Parfume-nya sudah mulai keluar baunya, hum seperti petrichor. Di buka dengan gerimis-gerimis kecil sebagai pendamping mempelai yang menaburkan bunga-bunga ungu.

Hujan sedikit telat datangnya. Kasihan gaun ungu-ku sudah sedikit lusuh. Rambutku sedikit berantakan karena angin. Pak penghulu sampai tertidur. Kali ini aku tidak berdandan. Hujan suka aku yang alami yang apa adanya.

Ketika hujan mulai mencumbu ku, hujan tidak mau ada make-up di sana, cukup ada aku dan bibirku. Ketika malam itu aku malu-malu membukakan jendela kamarku. Ketika aku hanya memakai tanktop dan celana pendek seadanya. Hujan tau aku sudah terlalu lama menunggu sampai lusuh. Hujan adalah tidak pernah membuat seseorang menjadi sia-sia.

Malam ini aku sudah tidak merasa sia-sia karena sebuah penantian panjang yang aku buat sendiri. Hujan masuk melalui jendela kamar dan mulai mencumbu. Menetes dari pipi, bibir, leher, menetes terus ke bawah. Sebelum melanjutkan semuanya, aku akan mengunci kamarku, kalau kalau ada yang mengintip, karena memang tidak boleh ada yang tau kalau aku sudah menunggu lama untuk sesuatu yang entahlah apa itu, aku akan malu.

Hujan mulai mengikuti aku masuk di dalam selimut. Sedikit menurunkan tali tank-top ku sambil dia berbisik ''Tidak ada yang tidak butuh waktu, semuanya harus ditunggu''

Ya memang, kadang aku butuh waktu, butuh waktu untuk menunggu. Kalau aku terlalu cepat mengambil keputusan dan ternyata salah, kasihan Tuhan sudah terlalu lelah merencanakan hidupku.

Hujan selalu benar, tidak salah dia menjadi mempelai pria ku. Katanya juga ''Kalau menunggu, tutup jendelanya rapat-rapat, takutnya ada yang masuk ke dalam kamarmu, ke dalam hatimu selain aku yang kamu tunggu''

Kalau menunggu itu perlu, lakukanlah, sepanjang apapun kemarau, hujan pasti akan datang, hujan akan menghapus kemarau.
Tunggulah hujan, tunggulah mempelai mu, tunggulah apapun itu.
Tapi tadi aku hanya berkata bahwa hujan selalu datang dan tidak pernah membuat semuanya menjadi sia-sia, itu hujan, tidak tau dengan mempelai mu, apalagi mempelai ku yang sepertinya kurang meyakinkan.