Tampilkan postingan dengan label Ungu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ungu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 November 2012

#Ungu Obrolan






Mendekatlah, aku tidak akan menggigit!

Reflek ucap ku setelah melihat mu hanya tersenyum dari jauh. Seperti sebelumnya, kali ini kamu tersenyum ke arah ku, aku yakin, sangat yakin. Bibir khas perokok mu membuat simpul senyum yang membuat aku lekas menyimpulkan hati mu sedang dihujani bunga. Mata bulat mu juga terlihat sayu malu-malu. Pipi mu lebih merah daripada rombongan jerawat yang menutupinya. Jika aku tengok lebih jauh, cacing di dalam perut mu mungkin telah berubah menjadi kupu-kupu yang menggelitikki dada.

Kamu masih tersenyum dari sebrang sana.

Mari berkenalan, sebatas nama juga tak masalah! Paling tidak, agar kamu tidak bingung ketika nanti Tuhan menanyakan siapa jodoh mu.

Aku terkikik melihat mu hanya menganggukan kepala. Menganggukkan kepala itu ambigu. Bisa 'iya' atau 'iya' yang sekedar menenangkan. Kamu masih duduk di sana, senyum juga masih menghiasi bibir hitam mu. Benar-benar... kamu lebih dari kalimat pasif yang pernah aku pelajari.

Cobalah memulai obrolan dengan ku, siapa tau bisa kepincut! Sudah aku siapkan dua gelas kopi pekat. Kunang-kunang bersama cinta merah jambu juga sudah siap di dalam toples kaca untuk menerangi obrolan kita senja ini. Tanggalkan segala keraguan mu, buang jauh-jauh masa lalu mu, ijinkan hati kita memilih topik obrolan yang tepat. Boleh tertawa sampai jungkir balik dengan obrolan dan sedikit candaan. Boleh serius ketika obrolan menjurus ke masa depan. Juga boleh menangis, karena mengobrol adalah gerbang dari sebuah ke-transparan-an hubungan.



Kamis, 15 November 2012, 20:23 ; Sesekali mengobrol dan sesekali menjadi pendengar mu saja.

Senin, 12 November 2012

#Ungu Halte



 
Memperhatikan mu menggulung sedikit demi sedikit lengan kemeja panjang mu. Mengobrak-abrik rambut mu di mana hujan masih bergelayutan pada setiap ujungnya. Mencari sapu tangan yang masih terlipat segiempat rapih di dalam saku celana untuk mengeringkan muka. Melepas kedua sepatu fantovel yang sudah seperti genangan hujan. Kamu adalah gelandangan ter-kece.

Bertahanlah di sini barang sejenak, mungkin halte ini bisa sedikit membantu.

Kamu tersenyum kecut di bawah kanopi halte. Mungkin kamu baru saja dihempaskan masa lalu yang kamu pikir dia dapat merangkap sekaligus menjadi masa depan mu. Apapun itu aku suka ketika kamu menaikkan alis dan mengangguk-anggukkan kepala, seolah segalanya akan membaik karena ada kamu yang lebih baik dari yang terbaik.

Apakah kamu tidak takut dengan kehilangan?

Kata mu polos sambil menyeruput kopi sisa pulang kantor tadi. Reflek, aku gigiti bibir bawah ku; rancu. Aku tau, maksud mu mengunjungi halte ini hanya untuk berteduh. Hanya untuk melupakan masalah yang ada. Berbicara tentang kehilangan, aku satu dari sekian banyak orang yang takut dengan kata itu. Aku takut kehilangan. Aku takut dengan ketidak-abadian. Lebih-lebih aku takut jika kamu bahagia bukan bersama ku.

Bertahanlah di sini barang sejenak. Jadikanlah aku sebuah pelampiasan dan berpura-puralah mencintaiku sampai kamu lupa bahwa sedang berpura-pura.

Aku masih memandangi mu, kaku. Ekor mata ku mulai berair. Serius, ini bukan air hujan. Kamu membenarkan posisi duduk, mungkin mau berpikir. Berpikir untuk kembali ke masa lalu, atau berlari cepat ke masa depan, namun bukankah lebih baik menghargai apa yang ada di dirimu sekarang; aku.

Karena hatiku adalah halte di mana banyak orang berlalu lalang pergi datang pergi datang, maka aku harap kamu adalah gelandangan yang pandai menyimpan kenangan. Maka, bertahanlah disini sayang, untuk jangka waktu yang melampaui segala sekat ruang.



Senin, 12 November 2012, 19:37 ; Sekuat apapun, halte juga bisa berkarat.

Kamis, 01 November 2012

#Ungu Bertahan






Bukankah memiliki teman tidur se-keren kamu adalah menyenangkan?


Kalimat ku pendek sambil mencelupkan teh celup berkali-kali ke dalam gelas warna putih tulang favoritmu. Tapi bibir ku bergetar menahan air mata yang hampir tumpah. Aku sengaja berdiri lama di depan meja makan berbentuk lingkaran ini dan membelakangi mu. Pagi ini mungkin salah satu pagi yang kurang cerah untukku dan untuk mu yang masih berdiri di depan cermin koridor rumah.

Cuman itu?

 Kamu sepertinya masih ragu dengan jawaban ku dari pertanyaan awal mu, mengapa aku memepertahankan mu sampai sejauh ini. Dengan handuk yang melingkar di leher, kamu menyentuh bahu ku lembut. Tangan hangat mu melelehkan segala bulir kedinginan yang mulai jatuh di pipi ku. Deru nafasmu terdengar berat, aku tau segalanya memang harus selesai bersamamu, tapi aku tidak mau terlalu membebani pikiran mu.

Paling tidak, dapatkah kau rangkai beberapa alasan yang indah agar aku tetap bertahan?

Merespon pertanyaan mu hanya dengan gelengan. Aku masih mengaduk teh yang sebenarnya lupa aku beri gula. Aku kalut. Aku ingin memepertahankan mu lebih lama bahkan selamanya, tapi hidup lebih berhak untuk mengajak mu kemana saja dan dengan siapa saja yang baru di luar sana.

Pergilah mandi, akan aku selesaikan teh ini dengan menambah gula dan menyaring endapannya. Juga akan ku selesaikan apa yang seharusnya kita selesaikan berdua.

 

Kamis, 1 November 2012, 11:40 ; Bertahanlah untuk mempertahankan yang pantas dipertahankan.